Minggu, 16 Oktober 2011

Alasanku

Alasanku
Awalan yang tak sengaja. Tiba-tiba ia nampak dari celah orang-orang yang aku kenal sebagai teman.
Dia menyampaikan pesan lewat media, ingin mengenalku dan terus mengenaliku. Ketika itu aku hanya diam, tak berkutik ataupun melirik. Karena aku memang belum tahu..
Berjalannya waktu, dia selalu mengikutiku di balik barisan teman-teman sepermainan. Siapa gerangan dirinya? Aku...., jadi penasaran.
Tiap aku melangkah dia ikut berjalan, tiap aku berhenti dia ikut berpijak, semakin mendekat di sisi kanan kiriku, bahkan di hadapanku.
Hingga semakin banyak waktu berjalan, aku dan dia ............ dipertemukan dalam suatu kisah. Kisah yang tak mudah diceritakan dengan lisan, karena untuk merangkai suatu kisah itupun tak semudah membalikkan telapak tangan. Alasannya, hanya satu. Tidak ada keyakinan yang kuat antara aku dan dia. Keyakinan kami, termakan ketakutan..
Tapi, kisah itu akhirnya tercapai juga.
Kami terbelenggu dalam rasa senang yang mungkin orang lain di sekitar juga merasakan, be happy. Teringat saat itu, aku dan dia dipenuhi rasa syukur yang sungguh2 melegakan hati. Setiap waktu., senang...kesedihan pun enggan menghampiri kami.
Dulu, aku berpikir bisa bahagia bersamanya dalam waktu yang lama. Salah satu misi, yang penting dijalani.. Mencoba menulis cerita cinta, berdua.
Kisah yang cukup unik. Aku dan dia, sangat memiliki perbedaan dari segi psikis dan fisik. Bahkan kalau dilihat lebih cermat lagi sebenarnya perbedaan dari segala sudut pandang. Berbeda bukan untuk menunjukkan siapa yang paling kuat, tapi untuk saling melengkapi (pikirku, entah dalam pikirannya).
Jika mereka melihatku dengannya, ikut tersenyum. Kami pun, lebih tersenyum..
Mungkin karena rasa senang yang berlebihan, dia terlalu membanggakanku di depan khalayak. Dia terlalu memujiku dan mempublikasikan kebaikan2 dariku. Begitu seterusnya.........
Sebenarnya aku belum bisa membahagiakannya, tapi kenapa ia begitu senang?? Aku sempat menggumam dalam batin, apa mungkin ia hanya mengagumiku?
Dia, yang kini sudah tidak ada peran dalam kisahku. Yang dulu aku puja, aku suka, aku cinta, dan aku sayang. Bagaimana dengan sekarang?
Semua sudah berakhir...
Berakhir dalam waktu yang singkat dan sedikit samar2 (tak jelas).
Dari aku, aku tak bisa menerima fakta yang ada (tak aku ketahui). Fakta tentang dia. Walaupun, dulu aku selalu mendengar cerita-cerita tentangnya  darinya. Cerita suram ataupun yang menyenangkan. Ternyata ada satu bait cerita yang tak aku tahu, yang tertinggal, HANYA SATU BAIT CERITA...!!
Dia pasti tahu, ketika aku menangis tak bisa bicara.. rapuh..
Mulai saat itu, aku dihantui kebimbangan yang hebat antara perasaan dan keinginan. Jika aku mengikuti keinginanku, bagaimana dengan perasaanku?? Karena saat itu perasaanku sedikit terkontaminasi keraguan, bahkan kepercayaanku padanya bisa dibilang hilang separo.
Situasi seperti itu yang benar-benar tak aku inginkan, ketika aku berusaha menembus kebahagiaan yang lebih layak bersamanya, kenapa tiba-tiba aku mendengar??? Ah, entahlah (aku tidak ingin mengingatnya).
Aku, bingung....
Dan setelah itu, banyak gejala lain yang timbul. Kami semakin merasa berbeda, dan masing2 merasa paling benar.. (tak lepas dari perasaanku yang masih kacau balau).
Yang aku tahu, dia lebih memilih menenggelamkan diri dalam dunia hura2 bersama orang2 yang tak aku tahu siapa mereka. Jika di situ ada mendung tebal, ia malah mengikutinya, ia memilih jalan yang berliku.. tanpa memanggil namaku, tanpa menghiraukanku. Yang aku rasakan, ia banyak lupa dengan asanya untuk jadi orang yang lebih baik. Di saat itu, apa aku salah jika selalu memberi rambu2 ke arah kanan?? Bahkan aku kadang merasa. Dia sepertinya hanya berambisi memilikiku dan tidak sungguh menyayangiku...
Tapi,....
Mungkin saat itu pula dia merasakan.. Aku, yang terlalu menuntut dia untuk jadi orang yang sempurna, yang harus selalu baik bahkan lebih dari yang lain. Dengan jalan harus “instan”. Aku yang egois, yang tak bisa mewujudkan keinginannya. Yang cerewet. Yang  hanya membatasi dia hanya boleh mencubit pipiku tiap bertemu?
Tapinya lagi,..
Ketika aku merasakan konflik batin seperti ini, aku dan dia masih sempatkan untuk membicarakan masalah2 agar tak jadi besar. Itupun, sering tak tuntas.
Aku bertahan, dan semakin lama kok jadi merasa seperti “sok pahlawan”. Dia memang mempercayaiku (entah berapa persen), cumaaaaa... aku tak punya cukup daya untuk menghadapi kerancuan yang terjadi. Karena aku semakin merasa sendiri dan dia pun sendiri.
Aku menangis, menangis karena situasi jadi tak karuan. Situasi yang benar2 tak aku suka. Aku kurang tahu apakah saat itu dia memahami perasaanku? (di sisi lain, aku selalu berusaha memahami perasaannya). Semua jadi serba tak aku ketahui dan rahasia..
Akhirnya aku lelah, ingin memberontak, dan kemampuanku hanya sampai batas saat itu. Aku bukan malaikat. Aku hanya bisa memberi motivasi untuknya, dan.....seperti yang terjadi saat itu. Keaadaan malah tak membaik,. Ditambah lagi dengan perasaanku yang rancu, rancu, dan rancu..
Mimpi tinggalah mimpi, mimpi kami telah berakhir termakan waktu. Terbenam hanya dalam SATU BAIT CERITA yang tak aku ketahui tentangnya,. Mungkin, satu bait cerita itu tak akan jadi masalah jika dia tak mengubah arah mencari kebahagiaan bersamaku. Jika dia tak terlalu berbangga hati di sisiku. Karena yang aku suka hanyalah kesederhanaan dan apa adanya. Kesungguhan dengan bukti nyata, saling percaya dan saling membutuhkan layaknya persahabatan.
Kini, aku tidak dengannya dan ia pun tidak denganku. Sehingga banyak orang bertanya, mengapa?? Mereka berkata, setiap kami bersama terlihat menyenangkan. Dalam batin ku menjawab, mereka tidak tahu aku menangis dalam senyum. Tangis untuk beban yang kurasa, dan senyum untuk kedamaian. Aku senang bersamanya, tapi belum bahagia.. seperti itulah..
Dalam kisah itu aku mendapat banyak pelajaran, dimana aku belajar menerima seseorang bukan karena untuk dibanggakan, tapi menerima dia apa adanya atas kekurangan. Dalam kisah itu aku merasakan, perbedaan antara cinta dan ambisi. Cinta yang berarti kesungguhan untuk menyayangi seseorang, sedangkan ambisi hanyalah suatu keinginan untuk memiliki seseorang. Dalam kisah itu.........yang telah usai dengan penutup tak begitu rapi. Dalam kisah itu, itu hanya sebuah kisah......

Tema : cinta
Lokasi : at home, at school, in my mind, in your mind, on the way.. and everywhere
Waktu : 2009 - 2010
Backsound : Sheila on 7 – Terlalu Singkat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar