Rabu, 26 Desember 2012

Sepuluh Ribu

Yuhuuuu....besok lebaran. Daripada nggak ada kegiatan di rumah, mending naik sepeda aja keliling kampung. Hehehe...liat mercon kek, anak2 kecil kek, atau apalah segala macam yang bisa aku liat di kampungku. Yaaahh terutama sambil menikmati gema takbir kemenangan. :)

Seneng juga liat para tetangga, yang di rumahnya banyak cemilan, kudapan2 renyah, manis, gurih, atau yang benar2 lezaaatt. Hmmm...atau, aroma ketupat dan opor ayam plus sambal goreng ditaburi bawang goreng dengan santan yang begitu kentaaal.. wow, hehe bisa kubayangkan. Yiaaahh, walaupun hanya bisa kubayangkan, tapi aku tetep senang, senang yang maksimal.. karena mau gimana lagi, hidup sendiri tanpa orang tua seperti ku ini emang harus seperti ini lah. Aku masih bisa beruntung, sodaraku nggak banyak buat ditanggung orang tua, aku cuma punya seorang kakak..yang yaaahhh...bisa dibilang sekarang hidup dengan sendirinya aja tanpa mikirin aku semenjak udah berkeluarga.
Lihat saja rumahku, sepi. Nggak seperti rumah2 lain yang aku observasi sepanjang ba’da Maghrib hingga adzan Isya’ pun terdengar. Aku berhenti sejenak, buat sholat di rumah. Baru aja naroh sepeda, tiba-tiba..

“HEH, ANAK KECIL!!! BARU KEMANA AJA KAMU?? NGELAYAP YA??!!”
“Mbak, ga usah keras2, aku denger kok kalau ngomongnya pelan, ga enak didenger tetangga kan nanti dikira ada orang berantem”, jawabku sedikit pelan pada seseorang yang udah menghadangku di depan pintu. Tak lain adalah istri dari kakak ku. Perangainya emang gitu, garang banget. Awalnya aku syok dengan wataknya, tapi makin lama udah biasa.
“Eh....berani ya, ditanya malah bantah!! Darimana???!! Haa???!!” kakak iparku, tak ada ujan tak ada angin selalu murka, tanya aja pake marah. Raut wajahnya seolah-olah ingin menelanku. Hingga aku terlihat seperti anak kecil ketakutan yang butuh perlindungan sang induk. Mau jawab pertanyaannya jadi enggan. BRUUUUKKKK!!!! “Bawain tas-tas ini ke depan!!! CEPEEEETTT!!!” dia melempar 2 tas besar ke arahku dengan seenaknya, untung lemparannya tidak mengenaiku. “Mau kemana mbak??” terpaksa aku bertanya, yang sebenarnya tak ingin bertanya.
“Ke semarang. Aku mau lebaran di semarang, kamu jaga rumah!!!”
“Jaga rumah? Semua ikut??”
“Iyalah..!!! Aku nggak mau lebaran di rumah ini!!! Sepi!!! Ga asik, ga meriah kayak di tempat ibuku!!”
“Tap...”
“Kamu..!!! Apa??? Haaa??? Mau ikut??? Jaga rumah..!! Rumahmu ini kosong, apa kamu mau disatroni maling??!! Itu ada uang sepuluh ribu di meja!!”
Masya Allah...aku belum bilang apa-apa, aku belum bertanya, aku belum protes, aku belum tahu alasan mereka meninggalkanku sendiri pas malam lebaran kayak gini. Tega banget!!! Nggak hanya tega. Adik sendiri, kayak nggak dianggep, cuma dikasih uang 10 ribu. Sedangkan Mas Bram??? Kakak kandungku sendiri sedikit pun tak membela melihatku ketika dihabisi oleh istrinya yang benar2 garang.

Sejak Mas Bram menikah dengan perempuan itu, keadaaan keluargaku semakin berantakan. Semakin asing dengan kata harmonis. Kakakku sebenarnya orang yang tekun dan pandai. Tapi entah mengapa ia tiba2 mau menikah dengan perempuan itu, ketimbang kuliah setelah lulus SMA. Dan...keadaaan jadi seperti ini. Istrinya ternyata memiliki tabiat pemarah, tidak hanya itu, wataknya sangat keras ditambah kakakku adalah laki-laki yang pendiam dan penurut, jadi semakin ‘nyata’ kegarangan istrinya itu. Dan Mas Bram setelah menikah selama hampir 6 tahun ini sepertinya hanya pasrah dengan sifat istrinya yang semakin gila, bahkan aku juga menjadi korbannya, SETIAP HARI.
“Mas...kenapa aku ditinggal sendiri?” Mas Bram hanya terdiam, melirik istrinya yang udah bersungut-sungut sebagai tanda pada suaminya untuk bergegas. “Maaasss...??? Aku sendiri... besok lebaran, aku sama siapa? Ayah, ibu...tidak ada, Mas..???” tak kuasa aku menahan aliran air mata, sebenarnya aku tidak menangisi perempuan itu pergi, tapi kakakku, yang dulu begitu sayang dan selalu melindungiku, tapi kenapa sekarang dia seperti tak peduli karena mungkin takut pada istrinya. Astaghfirullah...
“Ayo Mas, cepat!! Kamu tuh udah gede, masih aja cengeng. Dasaaarrr!!” bentakan itu sudah tak kudengar lagi. Aku hanya menatap Mas Bram dan tak henti menangis. Aku menatap matanya dan aku tahu sebenarnya ia tidak ingin aku sendiri. Tanpa kata ia hanya membelai rambutku, kemudian pergi. Bersama istri dan kedua anaknya menjauh dari rumah yang dulu aku tinggali bersama Ayah, Ibu, dan Mas Bram, yang dulu begitu ramai suasana di sini, begitu tenang berkumpul bahagia, tapi saat ini, di saat hari menjelang idul fitri, hanya ada aku.

Aku hanya terdiam, entah apa yang harus aku lakukan. Gema takbir yang semakin ramai satu2nya hiburan untuk menentramkan hati. Setelah sholat Isya’, jujur aku laper. Tapi dengan uang 10 ribu ini?? Mau makan apa? Apa yah pantas jika ke rumah tetangga hanya untuk minta makan. Mungkin kalau mereka tahu keadaanku yang sendiri, mereka akan memberi sesuap nasi atau sebuah ketupat, tapi mereka tahu darimana? Teriakan kakak iparku tadi tertutup oleh riuhnya gema takbir, tetangga tak akan mendengar dan itu harapanku. Kalau aku pergi keluar untuk cari makan, huuufftt lebih nggak mungkin. Mana ada warung buka di malam menjelang lebaran? Rumahku ini di desa, kira-kira 25 kilometer dari Semarang. Aku hanya tinggal dengan Mas Bram semenjak Ayah meninggal dan Ibu bekerja keluar negeri untuk mencari nafkah. Rumah yang sangat sederhana, tapi cukup nyaman buatku walaupun jauh sangat jauuuh jauh dari kemewahan dengan serba seadanya. Tapi aku tetap bersyukur dengan keadaan sekarang, bagaimana pun ini rumahku, peninggalan dari orang tuaku.

Gema takbir yang makin serentak terdengar dari surau-surau tak terasa menutup lamunanku dalam kesendirian, hingga tertidur pulas...
Alhamdulillah...aku masih bisa melaksanakan sholat Id tahun ini. Sebuah anugerah juga. Seandainya Ibu di sini.. Aku hanya bisa berdoa untuk ibu, semoga beliau baik-baik saja jauh di sana. Dan kakakku..?? semoga ia lekas sadar kalau aku kelaparan. Dari tadi malam belum makan, dan kebetulan buka puasa kemarin hanya minum beberapa gelas air putih. Karena memang di rumahku tidak ada makanan, dan kakak iparku yang secara jelas sudah berpenghasilan itu pun tidak peduli. Sudahlah, aku tidak ingin mengingat keburukannya lagi.

Sepulang dari masjid, semakin terdengar bunyi perutku yang kosong ini. Tak kuasa aku menahan, setelah bersilaturahmi dengan para tetangga, aku merebahkan tubuh di kursi. Walaupun sudah makan makanan ringan dari silaturahmi tadi, tapi tetap saja, lapaaaaarrr. Namun tiba-tiba aku melihat bayangan ibu datang dari depan pintu. Ibu datang...!! benar, itu ibu!! Aku langsung terbangun menyambutnya, ingin memeluknya, mendekapnya, dan tidak ingin aku terpisah jauh dari ibu. Aku menangis dalam pelukan ibuuuuuu.... BRUUKK!!! Tiba-tiba ibu menghilang. Suara itu dari pintu tertutup keras yang terhempas angin. Ternyata aku tertidur, dan tidak kudapati ibu ada di sini. Aku masih terdiam, berharap semoga Mas Bram datang, selagi aku punya rencana lain dengan uang sepuluh ribu ini.

Sekali Saja Tak Terlambat


Pagi itu, seperti biasa Rani udah dandan rapi pake seragam SMA, pake sepatu, tas slempang terisi buku lengkap sesuai jadwal, rambut terurai bebas, se-bebas hatinya untuk hari ini menjalani aktivitas di sekolah. Walopun bel sekolah “memanggil” nya 1 jam kemudian, ia udah siap berangkat. “Daripada nanti kena macet, tertutup gerbang sekolah dan dimaki guru, mending berangkat gasik,” pikirnya.
Dengan santai, ia melaju naik motor ke sekolah. Yaahh menikmati pagi kota Semarang yang seadanya, adanya ya hiruk pikuk orang2, pada ke sekolah, kuliah, kerja, macam2. Yang ada juga jalanan rame, makin rame, makin padat, makin panas, dan traffic light yang “kejam” bermenit-menit menyala merah. Itulah..
Sampai di sekolah, tepatnya udah di kelas, langsung naroh tas. Huft...hawanya udah gerah.
“Hai Ran, seperti biasa ya pagi2 kamu udah dateng.” Sapa Uci, teman sekelas Rani yang baru datang.
“Iya, aku suka berangkat pagi, takut kena macet.” Memang pagi itu, di kelasnya belum banyak penghuni. Kira2 masih ada 10 persen anak dari jumlah seluruhnya.
“Tuh, partnermu pasti telat.”
“Hehehe.” Rani cuma nyengir aja, lagi ga pingin banyak komen pagi ini. Dia memilih duduk, dengerin mp3 , sambil nunggu bel. Sementara teman2 lain, mulai berdatangan satu per satu, dua per dua, tiga per tiga (maksudnya rame2). Dari ke sekiannya, temen sebangkunya tak segera menampakkan batang hidungnya. “Seperti biasa, tiap pagi harus sendiri.” gumamnya. Teeet...teett..teett...akhirnya, suara bel pun nyaring memecahkan ketenangannya.
Jam 7 tepat,  penghuni kelasnya udah siap di bangku masing2 dengan suasana pagi yang gaduh, bagai Pasar Johar. 5 menit kemudian, ibu guru datang, lalu berdoa, buka buku, dan belajar. Sebelumnya, “Rani? Rino belum dateng, Nak?” Bu Rasti, sambil membuka absen ia bertanya pada Rani. “Belum Bu.”  jawabnya singkat. 1 menit, 10 menit, 20 menit berjalan...Teman sebangku Rani belum juga datang. Tapi tiba2....
Tok..tok.. “Bu, permisi, maaf terlambat.” Rino muncul, bagai hantu yang datang tak diundang, pulang tak diantar, seketika teman2 sekelas pun menatapnya . “Kamu tahu? Sudah terlambat berapa jam?” Bu Rasti langsung melempar tanya pada Rino. “Saya tadi telat, Bu. Ke BK dulu, baru masuk kelas ya sempatnya sekarang,” alasan Rino. “Baiklah, duduk! Besok saat jam pelajaran Matematika jangan ada kata terlambat lagi. Untuk yang lain juga!!” peringatan dari Bu Rasti dengan nada suara tinggi, pastilah teman2 sekelas menyalahkan Rino, bikin mood Bu Rasti so bad.
“Terima kasih, Bu.” Rino langsung duduk di bangku depan paling pojok kanan. Satu kursi kosong, sebelah Rani. Itulah singgasananya.
“Kenapa sih, kamu tiap hari telat?” tanya Rani.
“Biasa-lah Ran, macet. Udah jangan dibahas.” Rino, menutup pembicaraan.
Tapi, Rani mencoba untuk bertanya lagi. “Mau ampe kapan kamu kayak gini terus? Tiap hari, telaaaaattt mulu. Jangan2 tadi juga belum mandi!!” Rani terbawa arus Rino, jadi ikutan suntuk. Bagaimana tidak? Liat penampilan Rino yang ga ‘fresh’, baju bau asap kendaraan karena pasti kena macet di jalanan, rambut acak2an kayak serabut jerami, sepatu? kaos kaki? Mungkin dari seminggu lalu ga ganti. Sumprit!! Ga menyenangkan.
“Tapi aku pake parfum, Ran.” Gleekk! Mendengar itu Rani langsung illfeel, seandainya semua orang bisa di ‘pause’ pada ga bergerak kecuali Rani, ia langsung lari ke kamar mandi buat ambil air, kalo bisa se-ember, atau mungkin selang kamar mandi sekalian buat nge-guyuuur si Rino. Haaahhh seandainya saja. Rani harus bersabar, duduk sebangku dengan sosok seperti itu. Mungkin, udah takdir baginya. Rino meng-klaim tempat duduk dengan Rani, jika Rani seorang yang garang mungkin udah ambil langkah 1000 menghindar darinya. Tapi saking baiknya, ia terdiam saja.
Dan....”No, banguuun!!! Pelajaran matematika udah selesai,” Rani mengguncang-guncang badan Rino yang lagi pe-we tertunduk di meja. “No?? Kamu niat sekolaaaaahhh nggak siiiihhh?!?? Tiap pelajaran tiduuurrr muluuu!!” Rani lebih melepas suara, berharap pemalas yang ada di sampingnya bisa bangun. HUH.
“Haa?? Sorry Ran, aku ketiduran. Oh, Bu Rasti mana?” Rino terbangun dan sedikit ling-lung.
“Matematikanya udah selesai, untung Bu Rasti ga tahu kamu tidur. Kamu kalo mau tidur sana tuuh, di kasuuurrr, bukan di sini. Ini bukan hotel, tapi sekolah,” jawab Rani sedikit ketus. Rino masih tetap terdiam. “Heih, sekali aja ga telat ke sekolah napa sih?” ini bukan pertanyaan dari Rani, tapi anjuran buat Rino. “Kamu telat sih telat, tapi kalo endingnya juga tidur di kelas, bener2 dah kebangettteen!”
“Iya deh Ran, besok aku usahain,” jawab Rino dengan santai.
                                                                                                ***
Esoknya, Rino terlambat dan terlambat lagi. Kali ini parah, ia baru masuk kelas jam ke-3. Rani ga banyak tanya ke Rino, bukannya ga peduli, tapi udah terbiasa dan sangat tak heran, juga udah hafal dengan alasan2nya.
Saat jam istirahat, Rino baru akan beranjak dari bangkunya seperti biasa ingin sibuk di kantin, Rani tiba-tiba menghalanginya. “Tunggu!”.
“Kenapa?” tanya Rino heran.
“Aku mau ngomong ama kamu, sebentar!” lalu mereka duduk di depan kelas. Tak biasa melihat mereka, berdua. Karena di kelas, walaupun sebangku, mereka ga akrab. “Oke No, aku bukannya mau ceramah atau sok ngatur kamu. Sekarang gini, kita satu kelas udah hampir setahun. Eh, tepatnya kita sebangku udah berbulan-bulan.”
“Terus?” Rino semakin heran.
“Yahh..dan aku udah biasa liat kamu yang telat mulu, suka tidur di kelas. Itu ga wajar No, kamu udah dihafal ama semua guru, apa ga malu? Dan tadi pagi, baru aja, telatmu ampe berapa jam?” Rani mulai menguasai keadaan.
“Tadi sebenarnya aku disuruh pulang ama BK, Ran. Tapi...” belum selesai Rino menjelaskan, Rani udah meng-cut.
“Oke, terserah tadi kamu kenapa. Sekarang gini, kita bentar lagi udah kelas tiga, menghadapi segala-nya kayak ujian, prepare lulus. Kamu mau terus2an kayak gini No?? Apa gunanya dibiayain sekolah ama orang tua. Dan tiap ada PR, tiap malam kamu selalu ke rumahku  buat tanya dan selau bertanya.” Rani melanjutkan. “Aku ga masalah kamu bertanya, tapi kalo tiap jam 9 malem? Jam segitu kalau orang jualan udah tutup, No.” Rani seperti menahan pernyataan2 ini.
“Maaf, Ran. Kamu jadi repot ya.”
“Bangeeett. Aku mesti lempar2 buku dari kamar atas itu sungguh terlalu.” Berhubung Rino sungkan untuk menge-tok pintu, seperti itulah ritualnya kalo tanya PR ke Rani. Karena hampir tiap hari, ia bertandang ke rumah Rani untuk tanya PR. Dan jam-nya ga tanggung2, tengah malem pun pernah. Dengan keadaan seperti itu, mereka tetap nggak akrab, malah Rani semakin ‘males’ sama Rino.
“Sorry, Ran.” ungkap Rino lirih.
“Aku belum maafin kamu, kecuali besok dan seterusnya kamu ga telat lagi. Sekarang, aku yang mohon ama kamu, untuk pertama kali. Plis, sekali aja ga telat. Aku ga tahu asal usulmu di luar sekolah kayak apa No, tapi apapun yang kamu lakukan di luar sana, sesibuksibuknya, tolong lah hargai waktu, belajar bagi waktu. Oke!?” pinta Rani. “Deal?? Untuk sekali aja ga telat?”
“Gimana caranya, Ran?” pertanyaan Rino yang tak disangka. “Ada ide?” tanyanya lagi.
“Haa?? Parah banget sih kamu.” Rani heran dan terdiam, berpikir.
“Aha! Besok kamu aku jemput ya. Rumah kita kan satu jurusan, nah nanti kita berangkat bareng.” Rino tiba2 mengeluarkan idenya yang baru ia pikirkan.
“So?” Rani sedikit bingung.
“Jadi, biar aku terikat ama jadwalmu berangkat tiap pagi. Nah, kamu berangkatnya jam berapa?” Rino bersemangat.
“Jam 6 dari rumah.”
“Haa?? Pagi banget.” lumayan kaget juga.
“Gimana? Berani nggak? Ini idemu sendiri.” tantang si Rani.
“Oke, besok aku jadi ojek buatmu deh Ran, ahahaha. Pokoknya beres, aku tanggung jawab jemput kamu jam enem pagi, ahahaha.” Jawab Rino penuh semangat.
DEAL!!! Mereka langsung berjabat tangan dan tertawa lepas. Seolah-olah telah mengakhiri suatu konferensi, untuk berevolusi demi menyelamatkan masa depan.
                                                                                                ***
Ternyata! Rino menepati janjinya. Ia pagi2 udah nyamperin Rani, sebelum jam 6 malah. Hehehe. Kali ini ia tampil beda, terlihat lebih rapi ga acak-acak’an. Nyampe di sekolah, teman2 pada heran. Aneh bin ajaib, Rino tukang telat bisa berangkat pagi jauh dari tiba waktu bel, bareng Rani pula. Seperti lihat siswa baru aja, banyak yang komentar, banyak yang nyindir plus ngasih ucapan “selamat”. Hedeeehh... heboh.
Rino berpikir, apakah segitu parahnya ia selalu terlambat? Dia emang menyadari, jarang liat jam dinding di kelas tepat jam 7 pagi. Jujur, rindu juga suasana damai kayak gini (yiahaha). Nggak buru2 di jalan, ga kena macet berpanas-panasan, ga dimarahi guru, ga grusah grusuh, adem ayem-lah. Yiahh..paling tidak ini bisa jadi kebiasaan barunya, bukan hanya karena untuk menepati janji pada Rani. Semoga...
“Kamu ga tidur, No?” tanya Rani tiba2 saat pelajaran.
“Ga ngantuk.” jawab Rino singkat. “Kamu suka ya, jadi alarm-ku tiap tertidur di kelas? Hehehe.” candanya.
“Ih...plis deh.” Rani mengernyitkan dahinya. Ia sedikit berpikir, berarti antara keterlambatan Rino itu ada kesinambungannya dengan tidur di kelas. Mungkin, Rino telat kerena malemnya kurang tidur jadi kesiangan, akibatnya di kelas ngantuk, molor deeeehh. Wah, ini mah jadi hubungan sebab-akibat dong. Sesuatu banget yahh...
“Aku telat juga karena selalu bangun kesiangan, Ran.” tuh kan dugaan Rani tepat. “Tiap malem, akhir2 ini aku sering perform di cafe2 Semarang ama prepare buat pensi2 sekolah. Gimana lagi Ran, temen2ku juga pada sekolah ama kuliah, waktu yang luang juga cuma malem.” Rani tahu, Rino demen banget ama dunia musik, tiap di sekolah ada acara, Rino selalu ‘nongol’ ama band-nya, yaahh untuk bernyanyi meramaikan, tapi ia tak tahu kalo Rino ternyata melalangbuana sebegitunya di luar sana. “Ini mau rekaman juga telat, karena bentar lagi UTS, kita fokus sekolah dulu,” lanjut Rino.
“Kenapa ga nanti aja nge-bandnya, sekarang sekolah dulu aja, No.” Rani coba ngasih saran.
“Ga bisa, Ran. Aku pengen jadi musisi, aku suka musik. Menurutku, aku belum bisa bagi waktu. Kadang, kalo semua kelar, aku malah ngikut temen2 main ampe larut malam, nongkronglah, PS-an lah.” cerita Rino kali ini, baru diketahui Rani. “Oh ya, kita jadi jarang ngobrol ya walaupun sering ketemu. Maklum Ran, nih mata emang suka nutup otomatis. Tapi makasih juga, suaramu yang beringas itu bener2 dah, ampuh jadi alarm, ahaha.”
“Ahahaha.” Kembali mereka konsen belajar. Dan Rani kembali bertanya,”jadi? Tiap hari kamu jemput aku terus kayak tadi?”
“Emm gimana ya?? sebenarnya sih ada ongkosnya.” Jawab Rino sambil nyengir.
“Ahh dasaaarrr, matree.”
“Hehehe bercanda kali Ran. Emm mungkin sementara ampe terbiasa, aku jemput kamu terus ya, ga papa kan? Gratis kok, pulangnya terjamin pula.”
“Iye dah, 1 minggu aja ya.”
“Dua minggu dong.” Rino ajukan tawaran.
“10 hari.”
“14 hari, plis.”
“Iyaa udah deh, deal. Asal ga telat, ga molor di kelas, jangan absen mandi. Belajar bagi waktu!” ungkap Rani.
“Iya deh Bu Bos, hehehe.”
Rani dan Rino semakin akrab, saling terbuka untuk sharing, kemana-mana jadi sering bareng. Mau gimana lagi, kini Rani ngojek terus ama Rino. Yiaah 2 minggu doang sih. Rani tidak mengira, ternyata Rino pun bisa bertanggung jawab, hanya saja selama ini ia tergiur untuk menambah waktu bermainnya di luar jam tidur. Namanya manusia, suka khilaf. Yang membahagiakan, makin lama Rino pun terbiasa disiplin. Dan akhirnya tanpa pake ritual nge-jemput Rani pun ia bisa, bahkan kadang datengnya malah lebih pagi dari pak bon (sebutan penjaga sekolah, hehehe ngebantuin buka kelas kali ya). Lebay!!!
Berjalannya waktu, keadaan semakin membaik tentang kebiasaan Rino. Sikap ia yang dulu cuek dan bermalas-malas, kini tak tampak lagi. Yaaahhh...mujarab juga, begitu niatnya ia mau berubah. Rani pun senang melihatnya. Hingga akhirnya, tiba mereka menapakkan kaki, di penghujung sekolah alias masuk kelas 3. Oh ya, flashback ke belakang dikit, selama liburan semester ini, Rani berlibur ke saudaranya yang di Jogja. Jadi praktis 2 minggu, Rani tidak pada posisi di Semarang, baliknya pun mepet, H-1 masuk sekolah, hehehe mumpuuuung.
Hari ini, hari pertama masuk sekolah, Rani bergegas. Wuiiihh...Semarang tetaplah Semarang. Tiap pagi macet, jalanan padat, sesak. Apalagi hari Senin, special dah ditambah upacara sekolah. Cukup singkat, durasi upacara 45 menit, kemudian para siswa berhamburan ke kelas baru masing2. Tapi, sejak tadi upacara ampe udah di kelas pun, Rino ga nampak. “Apa tuh anak ga masuk? Atau mungkin dia nyasar ke kelas lain? Emm...ga mungkin, pasti tuh bocah kluyuran ke kelas2 muter satu sekolah, emang! ga penting!” pikir Rani dalam hati.
Dan...ketika aktivitas belajar pun dimulai, Rino tak hadir. “Rino? Telat lagi? Hih, maksud dia apa kalo toh ga bisa berubah?” batin Rani. Tapi aneh, ampe di jam kedua waktu istirahat pun Rino ga masuk. Guru2 tadi juga ga ada yang nge-absen. Wali kelas kebetulan absen pula, keluar kota katanya sihh. Tiba2 ada sms masuk, “Ran, aku maaf blm sempet bilang, soalnya blm sempet ketemu kamu. Aku hari ini, pindah sekolah Ran. Temui aku di bandara jam 2 siang ya. Plis.” Rani kaget! “Haa?? Rino?? Maksudnya apa ini?”. Rani langsung mencari temen2 deket Rino, yang kebetulan juga dapat ditemukan dengan mudah di kantin. “Haaannn!!! Rinooo??? Sms aku. dia pindah? Kemana? Aku ga ngerti.” Buru-buru Rani bertanya ke Farhan, yang sontak kaget pula liat Rani ngos2an gitu.
“Tenang Ran. Aku juga mau ngasih tahu itu. Duduk gih, minum dulu. Kamu habis lari2 dari kelas ya??”
“Nah, kenapa ga daritadi?”
“Daritadi aku nyari kelasmu dimana, IPS berapa? Eeh sekarang ketemu orangnya, hehehe. Gini, Rino ga hanya pindah sekolah, dia pindah rumah juga ikut orang tuanya.”
“Hmm..???” Gleekk! Rani menegak minuman dari Farhan yang secara emang haus banget. “Maksudnya?”
“Ayah Rino pindah tugas ke Kalimantan. Tahu sendiri kan, profesi ayahnya....sebenarnya dia mau ngasih tahu kamu. Tapi, karena kamu di Jogja, dia takut ganggu liburanmu.”
“What???” Rani teringat sms dari Rino dan diaaa...menunggu waktu jam 2 siang. Wah jam setengah 2, sekolah kelar. Nyampe bandara paling 30 menit nyampe, soalnya deket. Tapi? Apa mending cabut sekarang aja. “Gilaaak seumur-umur aku ga pernah cabut sekolah, tehniknya gimana juga ga tahu. Aku takut. Takut juga kalo ga terkejar ketemu Rino. Yiaaahhh moga pesawatnya delayyy gitu aja.” Batin Rani berkecamuk. Menunggu waktu...atau meninggalkan sekolah. Huuufft..!!!
Finally...bel sekolah yang ditunggu Rani berdering nyaring. Daritadi di kelas bener2 udah ga konsen, panik super panik takut kalau ga sempet ketemu Rino. Sesegera mungkin, Rani menuju tempat parkir dan nyamber moottooorrr. Tujuannya hanya satu, bandara Ahmad Yani, sebenarnya jarak ga jauh, 15 menit aja nyampe! Tapi takutnya, kalo macet.
Tanpa noleh kanan kiri, Rani melaju cepat ke bandara. Daaannn...!!! “Etdaaahhh ngapain pake macet segala. Aku udah di tengah2 Kalibanteng, kalo mesti balik, sama aja dua kali kerja. Mau muter? Muter ke mana macet semua. Ada apa sih siang2 gini malah pada turun ke jalan. Gilakk! Gilak!” Rani tetap nekat, berada di tengah kemacetan. Mau bagaimana lagi emang udah ga ada pilihan. Dia berharap, hanya ketemu Rino. Karena Rino akan pindah habitat yang tempatnya ga tanggung2 ke luar Jawa, ke Kalimantan. Rani tahu, ayah Rino seorang dokter yang masih aktif dengan profesinya walaupun usianya juga cukup senior, jadi maklum jika emang harus bertugas ke sana ke mari bahkan ampe keliling Indonesia. Hanya saja, Rani sedikit kesal kenapa Rino ga cerita, malah tiba-tiba. Ga ada salahnya juga kan kalo cuma sms atau telfon di sela2 liburan.
Oke..!! akhirnya nyampe bandara. Rani melihat jam tangan, udah jam 14.o6 WIB. Jantung Rani berdegup kencang. Panik dikit, khawatir dikit, takut dikit, capek dikit, campur dah. Rani berlari-lari kecil mecari Rino di tempat pemberangkatan penumpang. Dia celingak-celinguk, mencari sosok Rino. Rino!! Tiba-tiba ada yang meraih tangannya, dia kaget. “Haaa??? Mbaaakk???” ternyata mbak Ratih, kakak kandung Rino, rasanya Rani sedikit lega. “Rino mana mbak?”
“Kamu pulang sekolah ya, Ran?” mbak ratih tidak langsung menjawab. Ia sedikit menenangkan Rani, yang masih terlihat panik.
“Eh iya mbak, tadi aku kena macet, jadi nyampe sini udah lewat jam 2. Rino mana mbak?”
“Maaf Ran, Rino udah take off. Dia daritadi udah nunggu kamu. Ini...”
“Apa ini mbak?” Rani bingung dengan kotak kecil terbungkus rapi, yang diserahin mbak Ratih ke tangannya. Rani juga sedih, kenapa mesti telat, kenapa mesti pake macet, kenapa ga sempat bertemu Rino. Teman yang dulu dianggapnya orang aneh, orang yang selalu telat dan menyebalkan. Kini, Rani yang terlambat untuknya, yang keadaan telah menjadikan mereka menjadi teman dekat. Teman dekat dalam waktu yang singkat. “Nah, kok mbak Ratih masih di sini? Aku ga bermaksud ngebiarin Rino nunggu...maaf mbak.”
“Iya ga papa. Rino juga minta maaf, ngasih kabar ke kamu mendadak. Mbak Ratih ga ikut, Ran. Masih ada skripsi. Jadi di sini sendiri, Rino sama ayah ibu yang ke Kalimantan.” Mb Ratih tersenyum, membuat Rani makin sedih aja.
Sesampai di rumah, Rani membuka kotak kecil dari Rino yang dititipkan oleh Mbak Ratih. Hmm..hanya sebuah kertas dan ada sebuah tulisan. Yang isinya :
“I don’t know what I feel and I must be crazy I falling love with her but I can’t tell the truth. Remember when you start at me and of course I start at you too oh my Godness I was so ridiculous. The said you’ll never love me, but I’m still hoping for your heart and hoping someday you can love me anyway..you can love me anyway.. Here I am in the edge of the pain, this pain is getting worse and worse. Getting for you until you know cause I’m addicted to you and nothing that I do.”
Di bawahnya ada pesan “ini lirik lagu yang aku buat, Ran. Lagunya ada di mp3 handphone kamu. maaf, aku nggak bilang pas masukin ini lagu, ini buat kamu..salam RINO.”
Seketika Rani membuka mp3 dalam handphone, ada satu lagu yang asing, tertulis judul lagu itu “only God know”. Lalu iya putar dan mendengarkan, ternyata memang benar itu lagu dari Rino. Hingga dalam keheningan saat itu, Rani mendengar lagu darinya dan berbisik dalam hati “sekali saja aku tak terlambat”.