Lebih baik hidup
sendiri atau bersama orang banyak dan tersakiti??
Dari dua pilihan itu,
saya yakin tidak ada yang ingin memilih.
Alasan pertama, jika
hidup sendiri itu tidak akan mungkin. Karena manusia adalah makhluk sosial yang
nggak akan bisa bertahan hidup tanpa orang lain. Dari lahir ampe bisa menjadi
dewasa dan tua serta renta, siapa yang kita butuhkan?? Banyak!!! Di saat sudah mati
pun tetap butuh orang lain, yang memandikan siapa? Men-sholat-i siapa?
Mengkafani siapa? Mengantar jasad ke makam? Mengubur jasad? Mendoakan? Pasti
orang lain di sekitar kita. PASTI.
Alasan yang kedua,
jika kita hidup sendiri, kita hidup untuk siapa, apa, dan buat apa? Toh nggak
ada yang lain. Itu nggak bisa!! Adam dan Hawa telah mempunyai keturunan yang
begitu banyak hingga sangat banyak sampai bumi ini telah banyak pula mengalami
perubahan. Bagaimana bisa sendiri?? dalam dunia apakah ketika sendiri?? itu
tidak akan ada.
Namun, sekarang jika
dibandingkan hidup bersama orang banyak, yang selalu ada di sekitar kita, yang
tak pernah lelah bersama kita itu PASTI jauh menyenangkan. Kebersamaan itu
mendamaikan. Tapi hal lain jika kita bersama orang banyak dan tersakiti. Ketika
kita dituntut keras untuk bisa menjadi individu yang sempurna yang pantas
bersanding pada mereka. Atau menjadi yang mereka mau, yang mereka suka, yang
bisa mereka terima. Hingga apapun caranya kita HARUS menaati peraturan dengan
segala aturan yang semena-mena?? Apakah seperti itukah manusia dengan sesama??
Hah?? Caci maki terlontarkan begitu saja, gunjingan, bahkan kata-kata kasar.
Sedikit salah mungkin sudah dianggap orang yang bodoh, bahkan tolol, bego,
guoblok!!! Ya, kalau hanya caci maki, kalau juga dengan tindakan yang
benar-benar menyakiti???
Terkadang orang itu
nggak sadar segitu aja merespon keadaan. Babat tinggal babat, hajar tinggal
hajar. Tidak pernah bisa menanggapi.
Sekarang, jika
kembali lagi. Apakah ada manusia yang bisa hidup sendiri?
Tapi kenapa ketika
bersama orang banyak yang begitu perhatian dan menyayangi, manusia mudah saja
tanpa dosa saling menyakiti??
Apakah tersadar,
ter-sadar artinya berarti sadar tanpa sengaja, saat kita itu ditinggal pergi
oleh semuanya dan hanya sendiri dan tidak dengan siapa pun?? Bahwa sekali lagi,
NGGAK ADA manusia yang bisa hidup sendiri TANPA ORANG LAIN. Hati-hati saja
dengan orang-orang di sekitar kita, yang selalu kita butuhkan, apa pun kapan
pun, dimana pun, apakah mereka benar-benar sudah merasa aman dan nyaman di
samping kita. Atau justru kita semakin mengusik kedamaian mereka, yaahh dengan
ke-egoisan yang terlalu berlebihan, mungkin.
Dan..lebih baik kita
itu melakukan sesuatu untuk orang lain yang emang udah direnungkan dulu apa yang
terjadi nanti jika kita yang mengalami. Sebuah perkataan kasar, hanya satu kata
yang keluar dari mulut “berbisa” itu sebenarnya udah bikin sakit banget. Bisa
membuat perasaan jadi minder atau bahkan merasa tidak dihargai. Ini bukan
berarti karena perasaan yang sensitif, tapi saya yakin mau yang sensitif atau
enggak, tiap orang punya perasaan yang bisa bahagia atau duka. Karena ingat ya,
manusia nggak seperti binatang, manusia tuh punya akal dan pikiran. Punya otak
kanan dan otak kiri di dalam tempurung kepala yang tersusun dengan rapi, yang
selalu bekerja aktif dan peka dengan keadaan sekitar. Jika perasaan udah dibuat
sedih, atau dikata yang jaman sekarang lagi booming banget tuh GALAU ya, semua
yang dialami dalam 24 jam bisa-bisa nggak ada “greget”nya, nggak semangat.
Hanya karena persoalan kecil tersakiti itu, yang mempunyai efek besar.
Itu bener-bener nggak
pantes, itu bisa ber-ending penyesalan pada orang yang menyakiti. Karena,
sekali lagi, manusia tuh nggak akan bisa hidup tanpa individu lain. Jadi nggak
usah pada sombong deh, nggak usah berbangga diri, merasa yang PALING, merasa
yang TER-... Inget ya, di atas kita masih ada yang Maha Kuasa. Sangat
disayangkan, sekarang itu malah makin banyak kekerasan dan apalah macam
sebagainya yang intinya para manusia saling tidak menghargai dengan sesama,
hanya karena emosial yang dituruti bukan mendengar hati nurani. ITU!!!

