Sabtu, 21 Mei 2016

Satu kata, sabar

Ego, ambisi, emosi.
Setiap manusia punya.
Namun kesabaran, setiap manusia belum tentu sama.
Sabar untuk apa dan siapa?
Untukku dan diriku.
Ego ku yang hanya menilai dari satu sisi apa yang sedang kualami.
Ambisi ku.
Terlalu ingin memilikimu, yang lupa konteks kemana manusia akan kembali di hari akhir.
Dan emosi.
Menata ucap dan sikap. Untuk saling menjaga komunikasi di antara jarak, kepentingan, kesibukan, kehidupan, lingkungan.
Yang berbeda.

Satu tujuan di sini, usaha dan doa.
Sabar dan ikhlas.
Berjuang dan diperjuangkan.

Semua atas kehendak Allah.
Tetap berharap kepada Allah.
Ikuti kata hati tidak dengan emosi.
Cukup doa dan sabar, karena bersabar pun berarti berjuang.
Menunggu ketepatan waktu mendapat ridho Allah, dengan seseorang yang tepat yang telah diridhoi Allah.
Amin.

Sabtu, 26 Maret 2016

Jangan takut

Jangan pernah takut bila mendung, yang hanya menyampaikan pesan. Bisa hujan atau tidak.
Takutlah jika kamu tak mau basah karena hujan, menakutkan lagi kamu menyalahkan mendung bila tak jadi hujan. Intinya, kembali ke diri sendiri.

Hitam putih

Maaf, jika harus hitam putih.
Karena warna lalu yang saya coba curahkan tidak cukup untuk memulai sebuah gambar cerita baru.
Sebenarnya saya tidak butuh banyak warna, secukupnya saja namun bisa memberi keyakinan.
Karena cerita sebuah gambar tidak hanya berdasar warna, tapi bagaimana gambar itu yang akan bercerita sendiri dari pandangan yang melihat.
Bisakah melihat saya di antara hitam putih ini?

Seniman harus ikhlas

Bagiku...sebuah karya seni adalah.
Dimana aku bukan seorang penyanyi, mencoba selalu melantunkan doa untukmu.
Biarpun aku bukan seorang pelukis, mencoba untuk menorehkan senyum di wajahmu.
Bila aku bukan seorang petualang, berusaha tetap ada dimana pun kau berpijak.
Dan jika hasil karyaku tak bisa kau terima, bukan menjadi hal yang sulit.
Seniman harus ikhlas ☺

Mengintip mendung

Mengintip mendung.
Bersiap agar tidak kehujanan.
Berlari agar tidak basah.
Beradu kecepatan antara angin dan kaki yang melangkah.
Begitulah lalu lalang manusia jika awan gelap tiba. Hanya aku, yang mengintip mendung dari atas rumah.
Jika hujan datang, siap berdoa. ☺☺

Kamis, 24 Maret 2016

Sore

Terbenamnya matahari bukan berarti kamu harus berhenti melangkah.
Senja, malam, pagi, ataupun siang hanya sebagai tanda waktu.
Kamu tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama, kamu harus bisa membuka lembaran baru di setiap detik berjalannya waktu.
Suasana ataupun tempat, adalah latar yang bisa menunjangmu yang tidak bisa dijadikan sebagai alasan, berubah itu susah.
Berubah bukan berarti kamu menjadi orang lain, tetaplah menjadi diri sendiri yang bisa diterima oleh banyak orang lain.
Tidak hanya satu orang lain.
Sekali lagi, banyak orang lain.
Perkecilah ego, yang ingin diperhatikan atau memperhatikan itu banyak.
Sehingga kamu bisa tahu, bagaimana cara bersikap mengahadapi orang ataupun tempat yang pastinya tidak pernah sama.
-sore

Kamis, 31 Desember 2015

Lalu apa selanjutnya

R- Detik waktu berjalan, terombang ambing menunggu kepastian. Hanya bisa diam, tak berkutik, sendiri dalam menanti, satu pertanyaan saja, ya atau tidak.
D- Detik waktu begitu cepat, secepat mengenal dirimu dan sudah pasti aku. Namun, aku harus tahu...yakinkah kau denganku? Aku hanya bisa menerima jawabanmu, lanjut atau berhenti.

R- Langkah semakin jauh, bukanlah menguatkan asa dua insan, namun semua menjadi berubah dan berbeda. Apakah?
D- Persiapan segala materi dan mental sudah ada. Namun ada siapa di antara kita, jika sudah membicarakan orang tua, lalu bagaimana?

R- Sedikit secercah cahaya, pengharapan masih ada pada dirimu. Atas segala sikap baikmu dan selalu memperhatikanku. Mengkhawatitkanku? Tak perlu, aku masih menunggu.
D- Perjuangan kita, yang menjadi dasar di hadapan orang tua. Apakah kau lelah? Aku melihatmu masih ingin berjuang bersamaku.

R- Tapi, ini belum berujung. Penantian yang semakin panjang, yang mudah sekali membuat bimbang. Sabar, sabar, dan sabar. Wanita, hanya bisa menunggu, itu saja.
D- Tapi, ini semakin terjal. Tanda penolakan sangat ketara, bahkan sikapmu juga. Iklas, ikhlas, dan ikhlas. Lelaki harus tegas, kau tahu aku ingin kau bisa.

R- Hingga pada suatu akhirnya. Semua hilang. Melebur dalam kisah lain dan bukan aku sebagai pemeran utama. Ada dia, yang telah sah menjadi pendamping hidupmu. Janur kuning telah melengkung. Lalu, selama ini apa ada yang salah dengan penantianku terhadapmu?
D- Dan pada akhirnya. Kau memilih berhenti, beralih arah dengan yang pemeran pengganti lain. Membangun tujuan hidup dengannya. Cincin tunangan telah melingkar di jari manismu, semanis perjuanganku selama ini di hadapan orang tuamu. Lalu, apa yang menjadi kekuranganku dihadapanmu?

R- Baiklah, aku mengerti.
D- Cukuplah, aku berhenti.

R- Wanita hanya bisa menunggu.
D- Lelaki hanya bisa meyakinkan.

R- Paling tidak, aku setia.
D- Paling tidak, aku berjuang.

R- Kelak, ada yang lebih baik.
D- Kelak, ada yang lebih indah.

R- Tidak menjadi sebuah penyeselan dalam penantian.
D- Tidak menjadi sia-sia dalam perjuangan dan usaha.

R- Semoga, kamu bahagia dengannya.
D- Semoga, dia yang terbaik untukmu.

R&D - Semoga, ini menjadi hikmah untuk bisa menjadi aku yang lebih baik, jika dipertemukan dengan seseorang yang lebih baik.