Rabu, 08 Februari 2012

Mawar bunga....bunga mawar

Tahukah kau...seperti apakah bunga mawar
Bunga yang mekar saat musim yang tenang, tanpa badai tanpa gersang

Mawar...itu..
Mawar... bisa menjadi lambang kebahagiaan atau tanda duka

Kebahagiaan ketika mawar menjadi “saksi” seseorang yang menyatakan cinta, menjadi bunga yang paling istimewa dari seseorang yang dicinta, bahkan tidak hanya satu tangkai, bisa dua, tiga, lebih.. hanya sekedar untuk menyatakan sayang, sungguh terlihat anggun dan elegan


Duka...ketika mawar itu sebagai tabur di atas pijakan ini yang cukup satu kali dialami oleh tiap insan. Tak banyak yang mengharapkan, namun pasti akan terjadi atas kehendak Tuhan



Mawar itu...mahkotanya penuh warna. Kuncup pun cantik, mekar pun indah. Semerbak wanginya tak kan ada yang menyamai apalagi menyerupai.
Daunnya...menjadi penghias tangkai. Daun berbentuk minimalis, tak menghalangi kumbang ataupun lainnya yang hendak menyambangi
Cukup satu kali dalam satu hari perlu kau siram dengan air, butuh beberapa minggu pula kau harus menunggu tumbuhnya mahkota yang sempurna, namun hanya dalan hitungan jam mahkota itu gugur dengan sendirinya

Tapi tak perlu khawatir..masih ada mahkota2 yang jadi penerus mahkota layu..begitu alurnya, begitu seterusnya selama mawar itu benar-benar hidup

Dengannya..jagalah keindahan mahkota itu..nikmatilah keindahan dan wewanginya, karna mawar satu dengan yang lainnya tak sama
Dengan itu..biarlah mawar itu tumbuh menyesuaikan alam. Jangan coba kau paksa mawar untuk segera bermekar, jangan pula kau hanyutkan keindahannya untuk sekedar ingin...ingin memiliki...ingin membawa pergi

Bagaimana jika mawar itu layu... jika hanya layu, namun jika melukaimu?
Ingatkah mawar mempunyai duri, tak perlu takut akan itu.
Duri itu untuk melindunginya dari tangan2 jahat..dari tangan2 yang tega memetiknya tanpa rasa

Jika tak ingin tertusuk atau terluka atau tersayat durinya, jangan pernah kau coba memetik mawar itu dengan kesengajaan tanpa tahu setelah itu harus bagaimana
Mawaaarr....dengan mahkota anggun dan harum..dengan duri untuk melindunginya
Tetaplah pada keindahannya...jangan biarkan kau tersakiti dan menyakitinya.


Senin, 06 Februari 2012

Kasih mereka buatku senang

Siang itu...aku ingin menghilangkan penat. Aku coba untuk  jalan-jalan keluar rumah, entah ke mall, ke pasar, ke toko buku, ke jalan raya, ke tempat makan, ke mana sajalah yang pasti tempat halal. Walaupun cuaca sangat panas, hiruk pikuk kendaraan mencemari udara, yiaaahhh tak mengurungkan niatku. Kalo emang udah niat, ya niat aja panas2an. Aku nikmati...aku anggap teriknya matahari adalah penghangat tubuh untuk mengusir masuk angin, ya..memang lagi musim masuk angin pula karena cuaca tak menentu.
Ketika itu.. pada suatu tempat, tanpa sengaja aku berjumpa mereka. Mereka berjalan berdua, begitu serasi...begitu mempesona. Seorang pria tampan dan seorang wanita cantik. Mereka sepasang kekasih, kakak kelasku saat SMA. Tak terduga, kami sedikit berbincang, saling bertanya kabar dan keadaan serta kesibukan. Lama tak jumpa, lama tak sapa, membuat kami sedikiiiitt...pangling bisa dikata. Kabar gembira dari mereka, keduanya telah lulus kuliah dan bekerja. Wajar, mereka lulus duluan, karena kuliahnya pun lebih duluan. Dari aku...
Begitu singkat pertemuan itu, karena aku harus melanjutkan berkelana mecoba cari hal yang menyenangkan. Sambil mendengarkan musik, aku menuju ke taman. Hmm...rasanya masih ingin senyum bahagia pasca pertemuan dengan mereka baru saja. Rasanya sosok lembut wanita itu, senyum manisnya, keramahan pria itu, wanita itu, yang benar2 jadi maskot jaman SMA dulu, benar2 terus terbayang dalam langkahkuuuu...dalam hatiku berkata “aku iri melihat kebahagiaan mereka, aku ingin seperti mereka.”
Sekilas...jadi terpikirkan. Mereka hebat. Pasangan yang hebat, menurutku. Bukan masalah berapa lamanya mereka menjalin kasih, tapi prosesnya bagaimana mereka menjaga hubungan saling mencintai bahkan saling menyayangi. Pasti tidak mudah, mereka dulu sangat populer di sekolah. Si pria, banyak yang naksir. Si wanita, banyak penggemar. Mereka tenar. Bahkan dulu pernah mereka diterjang gosip huru-hara dan problem besar2an di sekolah, sampai ada sanksi berat, toh aku melihatnya tadi!! mereka MASIH BERSAMA. Bagaimana bisa? Bagaimana dengan aku?
Bagaimana dengan aku, kisahku, atau kisah2ku? Masa laluku? Ah, bukan apa2nya. Enggan sekali untuk diingat, apalagi dibahas ulang. Aku yang dulu, aku yang masih “pasang surut” dalam proses menjalin kasih dengan seseorang. Aku yang dulu, penuh egois, penuh emosi, penuh curiga, prasangka dan pemegang teguh keistimewaan, kesempurnaan, untuk mewujudkan segala cinta. Sangat berlebihan. Aku mencoba sedikit meng-analogikan mereka denganku, sekali lagi sebenarnya aku tak ingin teringat masa lalu, tapi mungkin kadang ini perlu untuk instropeksi diri. Usia mereka sama, aku juga pernah menjalin hubungan dengan laki-laki yang se-usia, yang aslinya kami sama2 labil, belum bisa mengatur emosi, yang sama2 egois, penuh prasangka yang paling parah, kalau kalau ada orang ketiga datang tak dijemput pergi tak diusir, berkobarlah api kemarahan yang ujungnya beujung simpulan “kamu selingkuh”. Padahal ga ada bukti.
Lain lagi, namanya juda beda gender, beda jenis kelamin, beda kubutuhan, beda keperluan, DAN SAMA-SAMA BUTUH PRIVASI. Tapi apa yang terjadi, sering kami berujung menyimpulkan dengan simpulan “kamu ga care, sok sibuk”. Mereka tidak seperti itu. Kuliah pun mereka beda jurusan, tapi tidak ada tanda2 saling tuduh menuduh. Beda sekaliiii...
Kenapa dulu aku tidak bisa seperti mereka? Padahal kisah kami pun mulainya di waktu yang sama. Yaaahh...semua itu memang tergantung bagaimana individu menyikapi. Aku melihat, mereka saling memotivasi. Sedangkan aku?? hmmm hanya mengejar ambisi untuk memiliki. Porsi yang berbeda, tentu ujungnya akan berbeda. Kali ini, aku masih teringat senyum mereka, senyum kelanggengan hubungan yang pasti mereka bangga memperlihatkan di depanku, aku pun bangga dengan mereka, aku pun ikut senang melihatnya. Dalam batinku, “semoga, seseorang lagi yang akan kutemui nantinya, bisa bekerja sama dengan hatiku, menyambut esok yang lebih baik, yang lebih baik, karna aku tak ingin mengulang kesalahan yang sama, sesuatu yang sama, berarti aku tak melangkah.. Dan itu tidak akan”
Segera kulanjutkan jalan2ku...dan musik yang mengiriku semakin mambuyarkan lamunanku...berjalanlah.

Rabu, 01 Februari 2012

Belum apa-apa udah salah sebut

Hari ini  (12 januari 2012), hari dimana kita satu angkatan dari DIII Kebidanan ada pembekalan buat PKMD, tanggal 16 Januari 2012. Dari jauh2 sebelumnya nooh, sebenarnya kita udah pada simpang siur tentang kegiatan ini. Yang pasti ke pedesaan lah, ga mungkin praktek kebidanan kok di kota metropolitan seperti jakarte gitu, yang ada juga ke pelosok, hehehe udah tradisi. 
 Nah, simpang siur itu yang paling HOT adalah di desa mana. Ada yang bilang, magelang, jogja, semarang. Semarang? Parah ga tuh, ibu kota sendiri (markas sendiri) masa buat tempat PKMD? Terdapat desa di dalam kota? Eits, jangan salah, ada loh sebenarnya, hehehe..

Tapi, dari simpang siur itu akhirnya terjawab. Angkatanku dapet lahan di Demak, tepatnya kecamatan Guntur I desa Temuroso yang seumur2 aku baru denger, walopun sebelumnya pernah praktek kebidanan di Demak. Oke, aku ga akan teriak dua kali bagaimana geografis di sana. Yiaahh ahahaha.

Oke, sebelum dari hari ini dan mendekati hari ini pun kita udah pada terlihat ga semangat. Dan aku yakin, latar belakang dari ketidak semangatnya tiap anak beda2. Kalo aku jujur ga semangat, soalnya biayanya mahal bo. Udah gitu kita lagi enak2nya ngerjain, fokus, serius, menjamah KTI (Karya Tulis Ilmiah) yah semacam TA gitu. Huuuu..

Dan sebelum hari pembekalan ini, kata PKMD pun makin tenar, makin nge-trend, ratingnya paling atas dalam kata yang paling disebut ama mahasisiwi tingkat akhir. PKMD kayak gimana ya? PKMD ngapain aja ya? PKMD asik ga sih? PKMD  ga kayak praktek di bidan kan? PKMD, ah cuma 3 minggu doang.

Dan aku pun ikutan make kata PKMD biar ga terlihat ‘ketinggalan’ gitu. Update status di facebook pun aku libatin kata PKMD. Status yang kutulis simple “PKMD (Pelayanan Kesehatan Masyarakat Desa) adalah inti dari diskusi kami selama 6 jam”. Emang bener, ada diskusi 6 jam di teater kampus ama temen se-angkatan plus dosen yang ngasih clue buat kita tentang PKMD. 6 jam, bukan sesuatu yang fantastis, tapi gila. Karena kita sebelumnya ga tahu bakal ada penjelasan tetekbengek selama itu, membosankan pula. Huuuuiikk.

Aku sih santai aja, setengah fokus, setengah melayang sambil menguap2 ngantuk. Yiaah ampe pulang malem, dingin2 gitu hanya untuk persiapan, dan itu pun dilanjutkan esoknya.
Esoknya, beneran dah, aku ama anggota kelompokku menghabiskan waktu rapat kecil2an di kampus (tempat favorit mahasiswi). Pas asik2nya nyiapin alat2, tiba2 mb petugas lab nya bertanya “emm dek, emang kepanjangan PKMD tuh apa sih?” Sontak!! Kita yang ada di situ langsung rada2 mikir. Apa ya? apa ya? dan pelan2 berbisik, eh apa sih? Ap sih? Ndak nganu, nganu nganu..... “Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat Desa” Glodakk!! Dosen yang tiba2 nongol tiba2 menjawab seperti itu, dan hampir hampir hampiiiiirrr aja aku dengan lantang mau ngejawab “Pelayanan Kesehatan Masyarakat Desa”. Dan seketika itu teman2 langsung bilang...”Jadi, status fb mu itu salah chi, kepanjangannya PKMD kok..??.” Aduuhh set dah. “Ahahaha tiwas tak like” Yiahhh... beginilah nasib orang jarang tanya dan baca buku, suka tersesat. Tapi, temen2 tuh juga ga semua tahu. Toh nyatanya? Hehehehe belum apa2 udah salah sebut, PKMD..... :p

Ego yang hiperbola

“Fa, kamu ga tahu...aku sakit ati banget ama mereka yang diam2 ngomongin aku di belakang!” ketusnya dengan suara lantang, tiba2 temanku ini marah semarah2nya yang pernah ada. “Tapi Na...” belum selesai aku ngomong. “STOP!!! Kamu pasti mau ngebelain mereka, iya kan??? Dan kamu pasti nyalahin aku. Terserah! Terserah kalo kalian emang nyalahin aku!!”.
“Maksudnya apa sih?? Aku ga bela siapa pun.. Aku cuma pengen kamu....”
“Halaaaahhhh kamu mau aku apa??? HAAA??? Minta maaf ke merekaa???” Tuutt..tuuutt..tuuut..

Busyet dah, kenapa aku yang kena semprot. Orang yang kayak gini nih, yang lagi labil karena emosi, serta notabenenya aku yang ga tahu apa2 pun ikut disalahkan. 2 jam lalu, sahabatku ini telepon. Curhat sejadi-jadinya. Permasalahannya?? Simple banget. Hanya sekedar bercandaan dengan sahabatku yang lain, dia ngambek. Pliss deehh, pikirku “penting ga sih?”. Gilak aja, ampe maki2an dikeluarkan, ampe berucap kata munafik berulang-ulang, masih terngiang di kupingku. Sekali lagi, ucapanku aja ga digubris. Entahlah tujuan nya dia nelpon buat apa, kalo toh minta saran kenapa aku malah ikut disalahkan. Bagai tanaman di pegunungan yang diterpa larva merapi, pasrah juga waktu kena lelehan larva panas itu.

Oke.. kalo aku kontak dia, pasti hawanya masih ger gerrraan. Ga akan deh. Aku coba menghubungi temenku yang lain lagi, Rita, yang jadi terdakwa pula dalam masalah ini.
“Hallo. Ada apa, Fa?” suara tenang tanpa dosa dari seberang sana.
“Kalian ada apa sih? Kenana Ana tiba2 marah ke aku? Barusan dia telpon.” Ketusku, secara ketularan juga dengan emosi nya Ana.
“Haaa??? Aduh Fa. Kita ga habis pikir. Kita tadi nonton film bareng, terus biasalah saling sindir. Eh ga tahunya dia marah. Sindir2 apa sih, kamu juga tahu kalo lagi bercandaan.”
Gilak aja, kayak anak kecil banget. Hanya perkara saling ejek, si Ana, temenku ini jadi garang banget. Dia emang termasuk orang yang gampang tersinggung, dia selalu menilai orang dengan pikiran yang negatif. Bahasa nge-trendnya ‘negative thingking’.

Walopun 24 jam lalu, ketika akal sehatnya masih aktif, dia bisa menyadari kalo dirinya emang egois. Dia terang2an bercerita pada kami, dia mau berubah, bersikeras ingin berubah, tak ingin seperti anak kecil. Sekarang?? Siapa yang munafik?? Ketika emosi sudah menjadi juara, semua akal sehat yang udah jadi niat sirna sudah bagai omong kosong doang. Bullshit doang!!! PREEETT.
Sekali lagi, aku coba mengirim sms untuknya, kali ini dengan font besar “NA, DEWASA DIKIT PLISS. INSTROPEKSI DIRI, OKE. MASALAH GA AKAN KELAR DENGAN MARAH.”

Huh. Aku ga berharap tuh sms ku di balas. Yang penting, DIBACA!! Tapi....tiba2 hendphone bunyi alarm sms. Yiaaahhh males buka, tapi akhirnya kubuka, kubaca. “Oke Fa, kamu mudah aja ngomomng gitu. Aku tahu, aku emang slaha. Ga ada yang mau ngedengeri aku, ngertiin aku, aku mungkin butuh psikolog....bla...blaa...bla...bla...” Beuh, udak ga kuat aku baca isi sms itu. Begini nih, tidak semua orang mau menerima saran orang lain, apalagi sikond lagi ‘meledak’. Dan aku sedikit berpikir, kira2 kita sendiri seperti itukah? Lebih konyolkah mempermasalahkan hal kecil hanya sekedar bercanda menjadi murka? Tiati aja kalo mau bercanda, liat orangnya seperti apa. Maksudnya bukan cakep atau enggak, tapi karakter orang itu yang seperti apa. Wussss!!!