Selasa, 10 Februari 2015

Facial? What is that?

Dua tahun saya bekerja di klinik kecantikan, jadi ada banyak pengertian tentang cantik dari pengamatan saya selama ini.
Bagaimana tidak?
Klinik kecantikan yang saat itu tempat saya bekerja, setiap hari rata-rata customernya hampir 200 orang untuk melakukan treatment facial. Mungkin sebelumnya ada yang nggak tahu apa itu facial? Sama, dulu sebelum saya bekerja di klinik kecantikan juga tidak tahu tentang facial.
Facial adalah proses pembersihan wajah mulai dari proses cleansing, peeling, pemencetan komedo/jerawat, hingga pemaskeran yang tujuannya hanya satu, wajah bersih. Nah itu menurut saya.
Mungkin ada pendapat lain, tujuan facial untuk memutihkan wajah, facial untuk pijet refleksi aja, facial ya hanya cuci muka. Hehehe apa pun itu ya sama, intinya kulit bagian wajah yang 'diurus'.
Nah dari pengertian dan tujuan itu pastilah biar wajah tetep cantik, kalo untuk pria biar tetep tampan. Karena memang, yang menggemari facial tidak hanya kaum hawa, banyak pula pria yang coba-coba atau bahkan rutin facial dari usia muda yang masih pelajar sampai usia tua. Terutama bagi seorang wanita/pria karir yang sangat dituntut untuk berpenampilan menarik.
Sisi positifnya banyak dengan merawat wajah, namun bisa menjadi sisi negatif pula jika persepsi customer tentang facial tidak pada konteks yang benar.
Misal nih, sekarang banyak mahasiswa atau pelajar yang mulai menggemari facial. Jaman saya sekolah/kuliah, tempat nongkrong hanya kantin, mall, kafe, dan sebagainya. Sekarang? Klinik kecantikan pun bisa jadi tempat nongkrong untuk pulang sekolah/kuliah lho. Tidak pengaruh pada jam mereka keluar rumah, tapi dari segi finansial. Mahasiswa/pelajar yang menurut saya tidak ada tuntutan dalam hal penampilan kecuali rapi dan sopan, facial bukan menjadi hal utama. Kecuali bagi mereka yang memang mempunyai masalah kulit. Harga facial tidak sebanding harga siomay, batagor, atau es teh. Sudah merupakan suatu bentuk pemborosan bukan? Ya jika mereka memang selalu ada kocek puluhan hingga ratusan ribu dari orang tua yang mampu. Menurut saya kok lebih baik uang untuk ditabung, bayar kos atau bayar kuliah. Hehehe. Masalah lain? Kadang ada, pelajar yang masih SD - SMP sudah minat facial entah karena ajakan orang-orang di sekitar atau inisiatif sendiri. Duh dek, usia dini jika tidak ada masalah kulit serius saya sarankan jangan malah dibuat "aneh" ya. Sayang kalau kulit masih sehat dan memang sehat harus terkontaminasi alat/bahan yang kimia (walaupun tempat klinik kecantikan saya bekerja saat itu memakai produk alami).
Misal yang lain. Ini menyangkut ibu-ibu yang bawa anak (di bawah usia 10 tahun/balita/bahkan yang masih bayi) ke tempat facial. Facial itu prosesnya kurang lebih 2 jam, belum nanti antrinya, belum nanti masih konsultasi dulu dengan dokter juga butuh waktu. Bisa dibayangkan lama rata-rata orang 'stay' di klinik kecantikan adalah 3 jam. Padahal mereka yang anak-anak waktu 3 jam hanya untuk menunggu sang ibu tidak akan mungkin bisa 'bertahan'. Naluri anak bermain, pasti mereka bosan. Efeknya ada yang menangis, usil sana sini, rewel, teriak-teriak dan yang paling nggak tega itu jika bayi/balita yang masih butuh ASI. Memang, ada juga kesempatan ibu menyusui untuk memberikan ASI di antara waktu facial, tapi tetap sajalah kasihan anak kecil berada lama-lama di tempat umum yang ramai orang dewasa. Tidak ada yang salah melakukan perawatan bagi ibu, namun alangkah baiknya jika anak tidak diikutsertakan menunggu berjam-jam, jika terpaksa ya mungkin bisa dipersiapkan matang ada yang mengasuh/menjaga sang anak.
Oke, contoh yang lainnya. Ini berkaitan pada pegawai swasta/pemerintah yang maaf nih ya, facial di jam kerja. Hehehe. Ciri-cirinya kelihatan sekali nih. Anti menunggu, bahkan diminta duduk sebentar pun mereka tidak berkenan inginnya langsung mendapat penanganan dan kelar. Aduh, mana ada tempat umum yang tidak antri? Hehehe. Urusan pekerjaan apalagi perijinan memang urusan pribadi. Hanya saja, kalau dilihat khalayak orang banyak mereka berseragan kantor rapi dan tidak berada di kantor padahal di jam kerja kan orang pasti berfikirnya hanya satu, bolos. Hehehehe.
Ini sisi negatifnya ya, facial sekarang menjadi kebutuhan 'hampir pokok' bagi wanita ataupun pria yang mungkin kadang berlebihan. Sebenarnya hanya masalah waktu dan bagaimana mengaturnya kebutuhan mana pula yang harus dipenuhi dahulu.
Itu saja sih...
Mungkin ada pendapat lain, nggak butuh facial dan tetek bengek macamnya, karena cukup dengan berwudhu cantik luar dalam bisa terpancar. Ini tidak salah :)
Kalau dari sisi positif dari facial tentu banyak. Semua wanita ingin cantik. Dengan menjaga semua kebutuhan jasmani selalu sehat dan bersih. Dengan perawatan wajah salah satunya ya facial. Karena facial isitilahnya bisa meng-upgrade kulit wajah, sel kulit mati terangkat, dan menghilangkan kusam. Itu bagus. Saya pun suka wanita/pria yang telaten merawat kulit wajah demi menjaga penampilan. Bisa karena demi karir, membahagiakan suami bagi yang udah bersuami, dan menjadi ciri orang itu peduli. Terutama bagi yang mengalami masalah kulit jerawat atau flek hitam, facial memang dibutuhkan untuk meminimalkan keluhan atau bahkan menyembuhkan.
Sisi positif lebih menjurus pada manfaat facial kalau menurut saya.
Dan itu memang benar.
Pesan saya, tetaplah bersyukur dengan apa yang sudah Allah berikan. Wajah sehat dan rambut indah ini semua patut disyukuri dan sebaiknya kita merawatnya. Meskipun nantinya semua orang akan mengalami wajah keriput dan rambut beruban, merawat apa yang sudah ada kita miliki adalah wujud syukur yang mudah dilakukan. Ingat? Kebersihan adalah sebagian dari iman.
Yak, cukup ini saja yang saya tulis bagaimana pendapat saya tentang merawat kulit wajah. Semoga bermanfaat :)