Senin, 20 Desember 2010

Arti sahabat

BEST FRIEND
Ini bukan sebuah prosa, bukan cerpen, bukan pula hanya cerita fiktif belaka. Tapi sebuah pengalaman panjang yang saya rasakan selama 19 tahun hidup di antara orang-orang hidup yang sangat berarti untuk saya bertahan hidup. *intinya : bahagianya hidup...

Saya mengambil obyek kepada,, SAHABAT. (:
Mungkin, orang lain lebih mahir menceritakan tentang sahabat dengan puisi atau sebuah lirik lagu yang mendalam. Tapi bagi saya, ungkapan apa adanya pun sudah Alhamdulillah. Hehehehe..

Siapa sahabat saya..??? pertanyaan ini tidak cukup jitu untuk saya.
Pertanyaan yang tepat adalah, “siapa saja sahabat saya???”. Maksudnya, saya tidak hanya memiliki satu (1) sahabat di dunia ini. Jumlahnya berjamaah. (bukannya sombong) :D
Mereka sahabat yang tentunya sudah saya kenal dalam waktu yang lama (mungkin sejak lahir kami saling sapa ketika menangis pertama kali di dunia). Lebih tepatnya, kami saling mengenal. Tidak butuh waktu 100 tahun untuk kami menjalin persahabatan, asalkan nyambung, comfort, royal, daaaaaannn ga sombong. Jadi, semua sikond bisa imbanglah.

Tentang mereka..........
Yang paling hebat dari diri seorang sahabat adalah, mereka mau membantu kita entah pas duka atau gembira tanpa syarat dan ketentuan berlaku. Benar bukan?? (:
Misal, pas saya naksir cowok....eh mereka bela2in nyomblangin (hihihihi). Pas saya butuh mereka buat latihan masak, mereka mau diajak latihan bareng2 (demi masa depan, hehe). Pas saya nangis karena gagal, mereka ngasih support (tanpa pamrih). Pas saya badmood, mereka bisa jadi penghibur (ahahaha). Apalagi kalau ada yang ultah, paling enak saya dapet traktirraaaaaaaaannnnn.... (hoorreee).. :D
Mereka baik, dengan keanekaragaman karakter dan sifat, tidak menjadi masalah bagi saya. Kembali pada filosofi “manusia tidak ada yang sempurna” dan “ tidak ada manusia yang sama di dunia ini”. Menurut saya, tidak ada sahabat yang tidak baik. Jika dia sudah kita anggap sebagai sahabat, tentu mereka telah “lolos” uji screaning kita sesuai undang-undang yang sah menjadi sahabat. Mungkin ada, beberapa insan yang tersakiti oleh sahabatnya sendiri. Mungkin ada kisah, dikhianati oleh sahabatnya sendiri. Mungkin lagi, ada novel yang berjudul “pacarku, dipingit sahabatku”. Lalu, persahabatan jadi retak. Aduuuhhh, itu semua nggak penting banget. Benar-benar menyakitkaaaaaaannn. ):

Sahabat juga manusia, bisa salah, bisa salah banget. Sahabat punya hak bahagia, asal tidak dengan cara tak halal. Sahabat bukan orang suruhan yang harus mengerti, melainkan seseorang yang berbeda dari kita untuk tempat BERBAGI. Minimal dari persahabatan, seseorang mempercayai dan seorang bisa dipercaya (ini peran penting). Seharusnya, problem2 itu tidak harus terjadi. Sangatlah tidak layak, jika menjalin persahabatan bertahun-tahun harus selesai hanya karena satu masalah yang berdurasi satu jam. Nggak adil kan..??? :o
Intinya, loe nggak egois. Yang egois banget dan super sekali, saya jamin hidupnya jauh sekali mengenal asyiknya bersahabat.

Ok. Lupakan pait2nya..!!
Ada juga kan??!!?, sahabat jadi cinta. Naaaahhh, yang ini nih yang bikin seru. Ahahahaha. Kisah praktis jadi romantis, hehehehe cciiiiieeee ciiiieeee.... lucu ya, orang-orang di sekitar saya juga ada yang menjadi “korban”. :p

So, saya seneeeeeeeeeeenng banget punya sahabat mereka. Bersyukur, mereka yang selalu ada everywhere, everywhen, and everytime. Mereka tidak pernah lepas dari rasa ikhlas ketika membantu saya pas lagi “buntu”. Dan, mereka tidak mengharapkan apa-apa setelah jalan keluar ketemu. Cuma ucapan TERIMA KASIH dari saya, mereka udah senang menerima dan membalas senyum.

Senyum dan tawa dari sahabat-sahabat merupakan salah satu kunci semangat saya ketika menghadapi segala tantangan hidup. Tangisan mereka..?? saya tidak ingin. Canda mereka..?? bisa menghilangkan kebosanan. Seperti itulaah... (:

Untuk mereka, saya benar-benar terima kasih kalian selalu menjadi manusia gokil, aneh, lucu, unik, rupawan, dermawan, yang MENGHIASI hidup saya. Dan satu lagi, kalian the best penuh sensasi. Ahahahaha.

Pesan singkat : bersahabat bukan untuk mencari untung rugi, tapi bagaimana bisa merubahmu menjadi individu lebih baik dari proses persahabatan yang baik. :D

Minggu, 19 Desember 2010

Sungguh ironis

meminta
Suatu hari, kalo pas berhenti di lampu bangjo kadang aku berjumpa dgn mereka. Kalo pas belanja di pasar, kadang disamperin ama mereka. Kalo keluar dari masjid (di kota2), kadang mereka udah menanti di depan tangga.. Mereka hanya menengadahkan tangan, memelas, dan sangat berharap aku mengeluarkan sesuatu dari kantong untuk mereka. Hanya 1 atau 2 keping 500perak, hanya itu yg aku beri.. Betapa "pelit"nya diriku?? Tiap hari bisa makan & minum, bisa beli pulsa berpuluh puluh ribu tp hanya 500perak yg aku sumbangkan untuk merekaa.. Huft..

Dalam hati, aku kasihan. Dalam pandangan, tangan ini hanya bisa bergerak memingit uang receh. Bukan uang kertas bergambar Imam Bonjol. Kenapa ya? Kadang aku lebih "gila". Kalo emang tak punya uang koin, aku memberi permen buat anak2 kecil yg beroperasi di lampu bangjo.. Astaghfirullah.. =(

Kenapa kehidupan mereka lebih tak beruntung? Padahal aku dan mereka, sama2 makhluk ciptaan Allah. Entah apa yg terjadi, pasti ada seribu latar belakangnya.

Tadi, setelah aku membaca koran, ternyata kegiatan mereka itu tdk aman. Mereka bisa "diciduk" satpol PP dgn alasan merusak citra kota. Tadi, setelah aku menyaksikan berita, ternyata memberi amalan ke mereka di jalan2 bisa dipenjara selama 6 sampai 10 hari. Tdk terlalu kaget, peraturan semacam itu uda lama ada (walaupun nggak rutin jd woro2 umum). Huufh, dewasa ini aku semakin berpikir. Emang ada benernya, kalo merusak citra kota bahkan bangsa. Kenapa ya mereka tdk bekerja ato berkreativitas? (jgn brpikir ke arah sarjana2 yg sulit mendapat pekerjaan). Aji mumpung, mungkin bisa ada kan. Menurutku, mereka terlalu malas dan mengabaikan etos kerja. Padahal itu dosa lho. Tapi, kalo mereka yg anak2?? Apa tdk sekolah?? Tapinya lagi, mereka yg udah tua renta. Apa tdk pnya anak yg "memadai"? Ya Allah siapa yg tahu. Aku ingin mereka itu bisa hidup makmur yg sama seperti saudara2 mereka yg lain. Tapi tapi tapi, kalo tdk berusaha ya itu sekadar angan2..

Pernah, aku melihat di tv. Mereka ada yg berbohong di depan khalayak dgn pura2 cacat. Sungguh keterlaluan..!! Entahlah, Allah pasti tahu. Ya benar saja, kalo ada larangan bersedekah buat mereka di jalan2. Sebenernya, ada tempat bersedekah yg lebih tepat. Yaitu di panti asuhan atau panti jompo atau sebuah yayasan. Tapi kembali lagi, namanya jg manusia kan "trenyuhan" kalo melihat sikond mereka. Walopun recehnya keluar 500, iba yg keluar bisa 500ribu keping. Huhuhu.. Gimana ga semrawut?? Di satu sisi positif, satu sisi lagi negatif.. T.T

Mereka adalah pengemis & peminta - peminta. Mereka sama seperti aku, kamu, dia & kita. Kehidupan seperti itu bukan angan & cita. Mereka harus mempunyai hidup yg layak. Kalau untuk 1 Indonesia, jumlah penampungan untuk mereka se Indonesia, cukup ga ya?? Mereka saudara kita bukan?? Aku, dari aku sendiri saja belum banyak membantu mereka. Huft.. Kapan ya, mereka tdk hadir lagi "merengek" uang receh..?? Kapan ya, diferensi sosial ini bisa hilang..?? Banyak tanyaku, banyak pula jawaban yg aku tunggu..

Aneh tapii... nyata


Event 1 :"Maliiiing..Maliiing..Maliiiing...."teriak seorang warga. "Woeee..Maling ayyaaaaaamm.."jerit warga yang laen. Secara spontan kalo di kampung ada teriakan gitu pasti langsung wuss..wuss..wuuss.. Reflek lari semua (orang-orang yg tahu) and bruk..brukk..bruukk.. Hajar saja tuh maling.


Event 2 : KPK berhasil menemukan bukti bahwa ketua DPRD xyz (misalnya) korupsi. Secara spontan, media langsung memburu kabar ini. Saat wartawan bertemu target, beuhh.. jeprat jepret jeprat jepret. Sang koruptor malah di poto2 bak model yg anggun. Lalu, media meworoworokan ke masyarakat. Responnya paling yaaa..ckckck (bergumam). Batin bertanya tanya, kok bisa ya uang 2 triliun di embat??

Hehehe. 2 event yg aneh tapi nyata. Sama-sama tindakan kejahatan. Bedanya, event 2 bobotnya lebih berat. Tapi, sikond penjahat di TKP lebih ekstrim event 1.

Pada event 1, otomatiss..!! Maling babak belur, lemes, loyo, letih, lesu dan apes. Pada event 2, biasanya tuh ya koruptor malah senyam senyum, santaeee, enjoy and have fun.. Haa? Hahaha. Padahal koruptor "makan" duit rakyat loh. Kalo maling, cuma makan ayam punya 1 orang. Parah mana??

Kadang2 kalo liat berita/koran, kasus event 1 penjahatnya nutupin muka pas di poto2 atau di arahin kamera. Kalo event 2, penjahatnya melambaikan tangan. Daaa..Daaa.. Dan berkata, "nanti pasti ada jalan keluarnya, tunggu saja" (ada loh yg kayak gini). Siapa yg memalukan? Dan siapa yg nggak punya malu? Aneh toh..!! Lalu bagaimana sikond mereka nanti di penjara? Kurang tahu juga, soalnya nggak pernah berkunjung ke LP. Hehehe. Banyak sih kata orang, penjara maling ayam tuh gini, penjara koruptor tuh gitu. Itu katanya..

Entah maling entah koruptor, sama2 salah. Harusnya ya mereka dihukum yg setimpal + adil. Jangan digebukki gitu ya. Dan jangan pula dilebay2kan.

Buat maling ayam : Ngapain sih nyuri ayam? Kalo pengen makan ayam, lha mbok beli. Kalo ga punya duit, lha mbok sabar. Atau jangan2 emang pengen melihara ayam? Lha mbok bilang ke pemilik ayam baek2 mungkin yo dikasih. Terus dipelihara, ayam bertelur banyak, tambah banyak, tambah banyak. Makmur kan?

Buat koruptor : Ngapain sih make duit rakyat? Gaji nggak cukup? Wah, berarti kurang bersyukur. Beruntunglah uda punya "title" pejabat dan dipercaya jadi "pelayan" masyarakat. Bukan malah cari keuntungan. Kalo korupsi semua, lama-lama negara bangkrut dong..!! Rakyat pasti gregetan ya. Pengen anarki mungkin. Tapi senjata koruptor kan duit. Kebanyakan orang kalo "ditampar" duit pasti manut. CURANG...!! Beraninya pake duit. Moral taroh mana coba? Huft. Kalo ngebahas koruptor bisa panjang banget nih. Capek ngetik. Hahaha.

ITULAH. Hal yg aneh tapi nyata. Tapinya lagi, ampe sekarang juga masih ada. Kurang logis? Atau terlalu logis? Harusnya sadar dari pribadi masing2 ya. STOP maling ayam! STOP korupsi! STOP anarki! dan lain-lain lah. Bbrrr..




Jumat, 17 Desember 2010

What Can I do?

 what can I do?

Dalam mata pelajaran IPS sejak di sekolah dasar, semua anak bangsa dikenalkan dgn kondisi geografis Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Indonesia, terletak di antara dua benua yaitu benua Australia dan Benua Asia. Indonesia secara astronomis, berada di antara 6˚ LU sampai 11˚ LS dan 95˚ BT sampai 141˚ BT. Indonesia, dilalui garis khatulistiwa, beriklim tropis memiliki dua musim, yaitu musim kemarau & musim hujan (plus pancaroba kalo pas pergantian musim).
Ingatkah..??? berdasarkan letak Indonesia yg stategis itu, Indonesia memiliki banyak julukan.
Pertama, Indonesia adalah negara maritim.
Artinya, sebagaian besar wilayah Indonesia adalah perairan. Jelas banget, Indonesia punya buanyyyyyaaaaaaakkk pulau yg benar-benar tersebar dari pulau yg paling besar (Kalimantan), ampe pulau yg kecil-kecil (contoh : kepulauan seribu). Kalo begitu, apakah di negara kita penduduknya sebagian besar adalah nelayan? Memang ada, dan terutama penduduk yg tinggal di daerah pantai.
Sempatkah kita tersadar, nelayan di Indonesia sejahtera nggak?? Kalo, keadaan nelayan di Indonesia digambarkan seperti ayahnya Lintang dalam film Laskar Pelangi, benar2 memprihatinkan..!! Betapa susahnya hidup mengarungi laut hingga nyawa adalah taruhannya. Subhanallah, orang2 seperti itu pantang menyerah demi memperbaiki keadaan ekonomi keluarga. Faktanya LAUT Indonesia kaya SDA, namun jika masyarakat belum bisa membudidayakan dgn baik dan benar, sedikit manfaat yg di dpt. Blm lagi, ada org2 jail dari negara2 sekitar  yang berani “nyolong” ikan di laut.

Kedua, Indonesia dikenal sebagai negara agraris.
Yg berarti sebagian besar mata pencaharian penduduk Indonesia adalah petani. Nah, lihat di tahun 2010 ini, kok sepertinya Indonesia jadi negara pabrik ya? (terutama di kota).
Sebagaian penduduknya bekerja sebagai pengembang industri dan kemajuan IPTEK. Ok lah di kota, bagaimana dengan yang di desa..??? mereka malah memilih jalan merantau ke kota atau ke daerah lain, terutama bagi pemuda. Why..?? bukankah menjadi seorang petani di desa juga ok??
But, lihat sekarang. Tanah perkebunan dan pertanian di desa ternyata banyak juga yang telah menjadi milik para “saudagar”.
Sehingga orang-orang yang di desa hanyalah “bekerja” untuk tetap “menghidupkan” tanah2 pertanian dan perkebunan itu. Kalo toh berkebun milik sendiri, mingkin hanya pekarangan kecil di samping rumah. Padahal mereka punya skill bercocok tanam tanpa menjadi seorang sarjana pertanian. Tapi kenapa harus berada dalam “kurungan kecil” untuk bertani??
Ketiga, “orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat, kayu, dan batu jadi tanaman” by Koes Plus.
Apa itu artinya?? Nandur tanduran opo wae ning ndi wae, mesti urip (menanam tanaman apa saja dimana saja, pasti tumbuh). Tinggal lempar biji kedondong, rambutan, mangga di tanah Insya Allah bisa tumbuh. Iya kan..?? terus kenapa hutan kita semakin gundul, ampe berakibat banjir, tanah longsor?? Kenapa bukit-bukit menjadi gersang?? Dan parahnya lagi, perkotaan tidak ada yang “berwarna hijau”.
Apa mungkin generasi sekarang tidak punya hobby bertanam menanam? Selaluuu saja nunggu pemerintah memberi peringatan MARI MENANAM 1000 POHON, mari hijaukan kota. Bagaimana dengan inisiatif kita tiap individu?? Karena malas, tidak sempat, atau memang mendingan “manut”  komando pemerintah saja. Sayang seribu sayang, padahal di sekolah juga sudah diterapkan untuk kita bisa mandiri menghijaukan lingkungan, dari hal-hal kecil lah seperti menanam bunga di pot. Tapi jika dewasa ini tidak ada yang peduli, sudah menjadi kesalahan besar dalam hidup kita mengabaikan kehijauan bumi.
Kesimpulannya... generasi penerus sekarang harus lebih peka dengan alam. Alam Indonesia bisa memberi lapangan pekerjaan untuk kita.
Tak perlu menjadi DOKTER SEMUA, tak perlu mendaftar sebagai pegawai negeri semua, tak perlu lebay.
Kamu punya skill yang tak sehebat professor, tak perlu stress. Lihat alam di sekitar kita, kenapa dihampakan..?? bersyukur kita bisa sekolah, bisa kuliah.

Jadi ilmu yang udah di dapat bisa diterapkan di masayarakat. Kamu nggak perlu lulus dari masa pendidikan dengan ending  jadi orang “kantoran”, jadi nelayan? Petani? Ahli pengembang biak tanaman? Why not???. Nggak jauh keren dengan para astronot. Lebih “canggih” lagi, kamu bisa pake ilmu yang berkembang sesuai kemajuan IPTEK untuk menjaga SDA Indonesia. Lo nangkep ikan, ga asal tangkap ga asal ngebom. Lo nanem padi ga asal tanam tanpa tehnik. Lo pengen punya kebun duren ga perlu nunggu 10 tahun pohonnya gede. Tapi kita pake semua ilmu yang udah di dapat dari sekolaaahh.. yang bisa memanfaatkan alam secara efektif dan efisien.
Nggak perlu gengsi menjadi pemuda yang sudah bekerja berlumuran lumpur, tanah liat dan tanpa jas atau dasi. Itu seni... nggak perlu takut kulitnya jadi item karena matahari... hehehehe.
Tunjukkan kalau kita di usia produktif tidak akan menunggu pemerintah membuka lapangan pekerjaan, tapi kita berusaha mandiri YANG KREATIF. Manfaatkan itu semua ke hal-hal yang positif, dijamin deh... bikin BANGGA BANGSA. :D