Minggu, 19 Desember 2010

Sungguh ironis

meminta
Suatu hari, kalo pas berhenti di lampu bangjo kadang aku berjumpa dgn mereka. Kalo pas belanja di pasar, kadang disamperin ama mereka. Kalo keluar dari masjid (di kota2), kadang mereka udah menanti di depan tangga.. Mereka hanya menengadahkan tangan, memelas, dan sangat berharap aku mengeluarkan sesuatu dari kantong untuk mereka. Hanya 1 atau 2 keping 500perak, hanya itu yg aku beri.. Betapa "pelit"nya diriku?? Tiap hari bisa makan & minum, bisa beli pulsa berpuluh puluh ribu tp hanya 500perak yg aku sumbangkan untuk merekaa.. Huft..

Dalam hati, aku kasihan. Dalam pandangan, tangan ini hanya bisa bergerak memingit uang receh. Bukan uang kertas bergambar Imam Bonjol. Kenapa ya? Kadang aku lebih "gila". Kalo emang tak punya uang koin, aku memberi permen buat anak2 kecil yg beroperasi di lampu bangjo.. Astaghfirullah.. =(

Kenapa kehidupan mereka lebih tak beruntung? Padahal aku dan mereka, sama2 makhluk ciptaan Allah. Entah apa yg terjadi, pasti ada seribu latar belakangnya.

Tadi, setelah aku membaca koran, ternyata kegiatan mereka itu tdk aman. Mereka bisa "diciduk" satpol PP dgn alasan merusak citra kota. Tadi, setelah aku menyaksikan berita, ternyata memberi amalan ke mereka di jalan2 bisa dipenjara selama 6 sampai 10 hari. Tdk terlalu kaget, peraturan semacam itu uda lama ada (walaupun nggak rutin jd woro2 umum). Huufh, dewasa ini aku semakin berpikir. Emang ada benernya, kalo merusak citra kota bahkan bangsa. Kenapa ya mereka tdk bekerja ato berkreativitas? (jgn brpikir ke arah sarjana2 yg sulit mendapat pekerjaan). Aji mumpung, mungkin bisa ada kan. Menurutku, mereka terlalu malas dan mengabaikan etos kerja. Padahal itu dosa lho. Tapi, kalo mereka yg anak2?? Apa tdk sekolah?? Tapinya lagi, mereka yg udah tua renta. Apa tdk pnya anak yg "memadai"? Ya Allah siapa yg tahu. Aku ingin mereka itu bisa hidup makmur yg sama seperti saudara2 mereka yg lain. Tapi tapi tapi, kalo tdk berusaha ya itu sekadar angan2..

Pernah, aku melihat di tv. Mereka ada yg berbohong di depan khalayak dgn pura2 cacat. Sungguh keterlaluan..!! Entahlah, Allah pasti tahu. Ya benar saja, kalo ada larangan bersedekah buat mereka di jalan2. Sebenernya, ada tempat bersedekah yg lebih tepat. Yaitu di panti asuhan atau panti jompo atau sebuah yayasan. Tapi kembali lagi, namanya jg manusia kan "trenyuhan" kalo melihat sikond mereka. Walopun recehnya keluar 500, iba yg keluar bisa 500ribu keping. Huhuhu.. Gimana ga semrawut?? Di satu sisi positif, satu sisi lagi negatif.. T.T

Mereka adalah pengemis & peminta - peminta. Mereka sama seperti aku, kamu, dia & kita. Kehidupan seperti itu bukan angan & cita. Mereka harus mempunyai hidup yg layak. Kalau untuk 1 Indonesia, jumlah penampungan untuk mereka se Indonesia, cukup ga ya?? Mereka saudara kita bukan?? Aku, dari aku sendiri saja belum banyak membantu mereka. Huft.. Kapan ya, mereka tdk hadir lagi "merengek" uang receh..?? Kapan ya, diferensi sosial ini bisa hilang..?? Banyak tanyaku, banyak pula jawaban yg aku tunggu..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar