Selasa, 03 Juli 2012

Lebih baik hidup sendiri atau bersama orang banyak dan tersakiti??

Lebih baik hidup sendiri atau bersama orang banyak dan tersakiti??
Dari dua pilihan itu, saya yakin tidak ada yang ingin memilih.
Alasan pertama, jika hidup sendiri itu tidak akan mungkin. Karena manusia adalah makhluk sosial yang nggak akan bisa bertahan hidup tanpa orang lain. Dari lahir ampe bisa menjadi dewasa dan tua serta renta, siapa yang kita butuhkan?? Banyak!!! Di saat sudah mati pun tetap butuh orang lain, yang memandikan siapa? Men-sholat-i siapa? Mengkafani siapa? Mengantar jasad ke makam? Mengubur jasad? Mendoakan? Pasti orang lain di sekitar kita. PASTI.
Alasan yang kedua, jika kita hidup sendiri, kita hidup untuk siapa, apa, dan buat apa? Toh nggak ada yang lain. Itu nggak bisa!! Adam dan Hawa telah mempunyai keturunan yang begitu banyak hingga sangat banyak sampai bumi ini telah banyak pula mengalami perubahan. Bagaimana bisa sendiri?? dalam dunia apakah ketika sendiri?? itu tidak akan ada.
Namun, sekarang jika dibandingkan hidup bersama orang banyak, yang selalu ada di sekitar kita, yang tak pernah lelah bersama kita itu PASTI jauh menyenangkan. Kebersamaan itu mendamaikan. Tapi hal lain jika kita bersama orang banyak dan tersakiti. Ketika kita dituntut keras untuk bisa menjadi individu yang sempurna yang pantas bersanding pada mereka. Atau menjadi yang mereka mau, yang mereka suka, yang bisa mereka terima. Hingga apapun caranya kita HARUS menaati peraturan dengan segala aturan yang semena-mena?? Apakah seperti itukah manusia dengan sesama?? Hah?? Caci maki terlontarkan begitu saja, gunjingan, bahkan kata-kata kasar. Sedikit salah mungkin sudah dianggap orang yang bodoh, bahkan tolol, bego, guoblok!!! Ya, kalau hanya caci maki, kalau juga dengan tindakan yang benar-benar menyakiti???
Terkadang orang itu nggak sadar segitu aja merespon keadaan. Babat tinggal babat, hajar tinggal hajar. Tidak pernah bisa menanggapi.
Sekarang, jika kembali lagi. Apakah ada manusia yang bisa hidup sendiri?
Tapi kenapa ketika bersama orang banyak yang begitu perhatian dan menyayangi, manusia mudah saja tanpa dosa saling menyakiti??
Apakah tersadar, ter-sadar artinya berarti sadar tanpa sengaja, saat kita itu ditinggal pergi oleh semuanya dan hanya sendiri dan tidak dengan siapa pun?? Bahwa sekali lagi, NGGAK ADA manusia yang bisa hidup sendiri TANPA ORANG LAIN. Hati-hati saja dengan orang-orang di sekitar kita, yang selalu kita butuhkan, apa pun kapan pun, dimana pun, apakah mereka benar-benar sudah merasa aman dan nyaman di samping kita. Atau justru kita semakin mengusik kedamaian mereka, yaahh dengan ke-egoisan yang terlalu berlebihan, mungkin.
Dan..lebih baik kita itu melakukan sesuatu untuk orang lain yang emang udah direnungkan dulu apa yang terjadi nanti jika kita yang mengalami. Sebuah perkataan kasar, hanya satu kata yang keluar dari mulut “berbisa” itu sebenarnya udah bikin sakit banget. Bisa membuat perasaan jadi minder atau bahkan merasa tidak dihargai. Ini bukan berarti karena perasaan yang sensitif, tapi saya yakin mau yang sensitif atau enggak, tiap orang punya perasaan yang bisa bahagia atau duka. Karena ingat ya, manusia nggak seperti binatang, manusia tuh punya akal dan pikiran. Punya otak kanan dan otak kiri di dalam tempurung kepala yang tersusun dengan rapi, yang selalu bekerja aktif dan peka dengan keadaan sekitar. Jika perasaan udah dibuat sedih, atau dikata yang jaman sekarang lagi booming banget tuh GALAU ya, semua yang dialami dalam 24 jam bisa-bisa nggak ada “greget”nya, nggak semangat. Hanya karena persoalan kecil tersakiti itu, yang mempunyai efek besar.
Itu bener-bener nggak pantes, itu bisa ber-ending penyesalan pada orang yang menyakiti. Karena, sekali lagi, manusia tuh nggak akan bisa hidup tanpa individu lain. Jadi nggak usah pada sombong deh, nggak usah berbangga diri, merasa yang PALING, merasa yang TER-... Inget ya, di atas kita masih ada yang Maha Kuasa. Sangat disayangkan, sekarang itu malah makin banyak kekerasan dan apalah macam sebagainya yang intinya para manusia saling tidak menghargai dengan sesama, hanya karena emosial yang dituruti bukan mendengar hati nurani. ITU!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar