Yuhuuuu....besok
lebaran. Daripada nggak ada kegiatan di rumah, mending naik sepeda aja keliling
kampung. Hehehe...liat mercon kek, anak2 kecil kek, atau apalah segala macam
yang bisa aku liat di kampungku. Yaaahh terutama sambil menikmati gema takbir kemenangan.
:)
Seneng
juga liat para tetangga, yang di rumahnya banyak cemilan, kudapan2 renyah,
manis, gurih, atau yang benar2 lezaaatt. Hmmm...atau, aroma ketupat dan opor
ayam plus sambal goreng ditaburi bawang goreng dengan santan yang begitu
kentaaal.. wow, hehe bisa kubayangkan. Yiaaahh, walaupun hanya bisa
kubayangkan, tapi aku tetep senang, senang yang maksimal.. karena mau gimana
lagi, hidup sendiri tanpa orang tua seperti ku ini emang harus seperti ini lah.
Aku masih bisa beruntung, sodaraku nggak banyak buat ditanggung orang tua, aku
cuma punya seorang kakak..yang yaaahhh...bisa dibilang sekarang hidup dengan
sendirinya aja tanpa mikirin aku semenjak udah berkeluarga.
Lihat
saja rumahku, sepi. Nggak seperti rumah2 lain yang aku observasi sepanjang
ba’da Maghrib hingga adzan Isya’ pun terdengar. Aku berhenti sejenak, buat
sholat di rumah. Baru aja naroh sepeda, tiba-tiba..
“HEH,
ANAK KECIL!!! BARU KEMANA AJA KAMU?? NGELAYAP YA??!!”
“Mbak, ga
usah keras2, aku denger kok kalau ngomongnya pelan, ga enak didenger tetangga
kan nanti dikira ada orang berantem”, jawabku sedikit pelan pada seseorang yang
udah menghadangku di depan pintu. Tak lain adalah istri dari kakak ku.
Perangainya emang gitu, garang banget. Awalnya aku syok dengan wataknya, tapi
makin lama udah biasa.
“Eh....berani
ya, ditanya malah bantah!! Darimana???!! Haa???!!” kakak iparku, tak ada ujan
tak ada angin selalu murka, tanya aja pake marah. Raut wajahnya seolah-olah
ingin menelanku. Hingga aku terlihat seperti anak kecil ketakutan yang butuh
perlindungan sang induk. Mau jawab pertanyaannya jadi enggan. BRUUUUKKKK!!!!
“Bawain tas-tas ini ke depan!!! CEPEEEETTT!!!” dia melempar 2 tas besar ke
arahku dengan seenaknya, untung lemparannya tidak mengenaiku. “Mau kemana
mbak??” terpaksa aku bertanya, yang sebenarnya tak ingin bertanya.
“Ke
semarang. Aku mau lebaran di semarang, kamu jaga rumah!!!”
“Jaga
rumah? Semua ikut??”
“Iyalah..!!!
Aku nggak mau lebaran di rumah ini!!! Sepi!!! Ga asik, ga meriah kayak di
tempat ibuku!!”
“Tap...”
“Kamu..!!!
Apa??? Haaa??? Mau ikut??? Jaga rumah..!! Rumahmu ini kosong, apa kamu mau
disatroni maling??!! Itu ada uang sepuluh ribu di meja!!”
Masya
Allah...aku belum bilang apa-apa, aku belum bertanya, aku belum protes, aku
belum tahu alasan mereka meninggalkanku sendiri pas malam lebaran kayak gini.
Tega banget!!! Nggak hanya tega. Adik sendiri, kayak nggak dianggep, cuma
dikasih uang 10 ribu. Sedangkan Mas Bram??? Kakak kandungku sendiri sedikit pun
tak membela melihatku ketika dihabisi oleh istrinya yang benar2 garang.
Sejak
Mas Bram menikah dengan perempuan itu, keadaaan keluargaku semakin berantakan.
Semakin asing dengan kata harmonis. Kakakku sebenarnya orang yang tekun dan
pandai. Tapi entah mengapa ia tiba2 mau menikah dengan perempuan itu, ketimbang
kuliah setelah lulus SMA. Dan...keadaaan jadi seperti ini. Istrinya ternyata
memiliki tabiat pemarah, tidak hanya itu, wataknya sangat keras ditambah
kakakku adalah laki-laki yang pendiam dan penurut, jadi semakin ‘nyata’
kegarangan istrinya itu. Dan Mas Bram setelah menikah selama hampir 6 tahun ini
sepertinya hanya pasrah dengan sifat istrinya yang semakin gila, bahkan aku
juga menjadi korbannya, SETIAP HARI.
“Mas...kenapa
aku ditinggal sendiri?” Mas Bram hanya terdiam, melirik istrinya yang udah bersungut-sungut
sebagai tanda pada suaminya untuk bergegas. “Maaasss...??? Aku sendiri... besok
lebaran, aku sama siapa? Ayah, ibu...tidak ada, Mas..???” tak kuasa aku menahan
aliran air mata, sebenarnya aku tidak menangisi perempuan itu pergi, tapi
kakakku, yang dulu begitu sayang dan selalu melindungiku, tapi kenapa sekarang
dia seperti tak peduli karena mungkin takut pada istrinya. Astaghfirullah...
“Ayo Mas,
cepat!! Kamu tuh udah gede, masih aja cengeng. Dasaaarrr!!” bentakan itu sudah
tak kudengar lagi. Aku hanya menatap Mas Bram dan tak henti menangis. Aku
menatap matanya dan aku tahu sebenarnya ia tidak ingin aku sendiri. Tanpa kata
ia hanya membelai rambutku, kemudian pergi. Bersama istri dan kedua anaknya
menjauh dari rumah yang dulu aku tinggali bersama Ayah, Ibu, dan Mas Bram, yang
dulu begitu ramai suasana di sini, begitu tenang berkumpul bahagia, tapi saat
ini, di saat hari menjelang idul fitri, hanya ada aku.
Aku hanya
terdiam, entah apa yang harus aku lakukan. Gema takbir yang semakin ramai
satu2nya hiburan untuk menentramkan hati. Setelah sholat Isya’, jujur aku
laper. Tapi dengan uang 10 ribu ini?? Mau makan apa? Apa yah pantas jika ke
rumah tetangga hanya untuk minta makan. Mungkin kalau mereka tahu keadaanku
yang sendiri, mereka akan memberi sesuap nasi atau sebuah ketupat, tapi mereka
tahu darimana? Teriakan kakak iparku tadi tertutup oleh riuhnya gema takbir,
tetangga tak akan mendengar dan itu harapanku. Kalau aku pergi keluar untuk
cari makan, huuufftt lebih nggak mungkin. Mana ada warung buka di malam
menjelang lebaran? Rumahku ini di desa, kira-kira 25 kilometer dari Semarang.
Aku hanya tinggal dengan Mas Bram semenjak Ayah meninggal dan Ibu bekerja
keluar negeri untuk mencari nafkah. Rumah yang sangat sederhana, tapi cukup
nyaman buatku walaupun jauh sangat jauuuh jauh dari kemewahan dengan serba
seadanya. Tapi aku tetap bersyukur dengan keadaan sekarang, bagaimana pun ini
rumahku, peninggalan dari orang tuaku.
Gema
takbir yang makin serentak terdengar dari surau-surau tak terasa menutup
lamunanku dalam kesendirian, hingga tertidur pulas...
Alhamdulillah...aku
masih bisa melaksanakan sholat Id tahun ini. Sebuah anugerah juga. Seandainya Ibu
di sini.. Aku hanya bisa berdoa untuk ibu, semoga beliau baik-baik saja jauh di
sana. Dan kakakku..?? semoga ia lekas sadar kalau aku kelaparan. Dari tadi
malam belum makan, dan kebetulan buka puasa kemarin hanya minum beberapa gelas
air putih. Karena memang di rumahku tidak ada makanan, dan kakak iparku yang
secara jelas sudah berpenghasilan itu pun tidak peduli. Sudahlah, aku tidak
ingin mengingat keburukannya lagi.
Sepulang
dari masjid, semakin terdengar bunyi perutku yang kosong ini. Tak kuasa aku
menahan, setelah bersilaturahmi dengan para tetangga, aku merebahkan tubuh di
kursi. Walaupun sudah makan makanan ringan dari silaturahmi tadi, tapi tetap
saja, lapaaaaarrr. Namun tiba-tiba aku melihat bayangan ibu datang dari depan
pintu. Ibu datang...!! benar, itu ibu!! Aku langsung terbangun menyambutnya,
ingin memeluknya, mendekapnya, dan tidak ingin aku terpisah jauh dari ibu. Aku
menangis dalam pelukan ibuuuuuu.... BRUUKK!!! Tiba-tiba ibu menghilang. Suara
itu dari pintu tertutup keras yang terhempas angin. Ternyata aku tertidur, dan
tidak kudapati ibu ada di sini. Aku masih terdiam, berharap semoga Mas Bram datang,
selagi aku punya rencana lain dengan uang sepuluh ribu ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar